Puskesmas Sindangbarang Diduga Lakukan Pemotongan Insentif

ILUSTRASI: Foto uang hasil gaji bekerja.(dok Jawapos)

RADARCIANJUR.com- Kasus pemotongan insentif tenaga kesehatan (nakes) ternyata tidak hanya terjadi di Puskesmas Kadupandak. Pemotongan insentif tersebut diduga turut terjadi di Puskesmas Sindangbarang dengan dalih sama yakni untuk pemerataan terhadap nakes yang tidak mendapatkan insentif.

Namun, pemotongan tidak semestinya, karena yang diterima oleh nakes dinilai terlalu kecil bahkan jauh dari kata wajar untuk diterima.

Salah satu nakes yang enggan disebutkan namanya menuturkan, total seluruh insentif yang seharusnya diterima Rp327 juta. Besaran yang diterima per nakes dari Rp2 juta hingga Rp20 juta. Namun insentif tersebut harus dikumpulkan terlebih dahulu sesuai instruksi dari Kepala Puskesmas Sindangbarang.

Kenyataannya, setelah diterima, insentif tidak sesuai dengan dari yang diterima secara transfer oleh setiap nakes yang menerima insentif. Total nakes di Puskesmas Sindangbarang terdapat 107 orang dan yang menerima insentif ada 64 orang.

“Kenyataan di lapangan malah ada yang dikasih 100ribu, ya intinya tidak sesuai dengan total yang nakes kumpulkan, justru nilainya di bawah sekali,” ujarnya.

Berdasarkan Surat Keputusan Kemenkes Nomor 392 Tahun 2020, insentif yang diterima nakes yakni dokter spesialis Rp15-20 juta, dokter umum atau gigi Rp10 juta, bidan serta perawat Rp7,5 juta dan tenaga medis lainnya Rp5 juta.

Kepala Puskesmas Sindangbarang, Wirno Susanto mengatakan, uang insentif yang masuk ke rekening masing-masing nakes ditarik oleh masing-masing nakes lalu dikumpulkan untuk pemerataan.

“Untuk memberi karyawan puskesmas yang tidak kebagian,” paparnya.

Sementara itu, Kapolres Cianjur, AKBP Mochamad Rifai menegaskan, jika ada temuan tersebut, nakes yang merasa dirugikan untuk melakukan pelaporan kepada pihak berwajib.

“Kalau ada temuan, laporkan,” singkatnya. (kim)