Aktifitas Serba Daring Harus Difasilitasi dengan Jaringan yang Memadai

RADARCIANJUR.com- Masyarakat saat ini diimbau untuk mengurangi mobilitas di luar rumah, terlebih bertemu dengan orang banyak atau berkerumun dan disarankan untuk melakukan setiap kegiatan secara dalam jaringan (daring). Namun, tidak semua kegiatan tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan aplikasi yang membutuhkan jaringan internet.

Pasalnya, di beberapa daerah seperti Kabupaten Cianjur belum sepenuhnya jaringan internet bisa diakses dengan lancar. Masyarakat pun dibuat bingung dan tentunya membuat sedikit kesulitan.

Pengamat Informatika Universitas Putera Indonesia (Unpi) Cianjur, Astri D Andriani mengatakan, memang permasalahan saat ini semua dilakukan secara online dari mulai pendidikan hingga bekerja.

Namun, hal tersebut dilakukan untuk kebaikan bersama dalam memutus mata rantai Covid-19. Akan tetapi, hal tersebut pun harus didukung dengan fasilitas yang memadai.

“Bukan hanya di Cianjur, di beberapa daerah lainnya pun sama. Tapi dalam sektor pendidikan memang pemerintah pusat sudah memfasilitasi dengan memberikan kuota internet gratis, tapi tetap saja harus didukung dengan jaringan yang memadai,” ujarnya.

Sehingga, jangan sampai masyarakat serba kesulitan di tengah pandemi. Saat masyarakat diimbau untuk melakukan semuanya dengan daring, tapi penyediaan layanannya kurang baik.

Selain itu, lanjutnya, hal tersebut pun akan berdampak kepada psikologi masyarakat. Di saat mudik dan segala kegiatan dilarang serta dialihkan dengan daring, tapi tetap sulit dalam mengakses.

“Jadi harus seimbang juga. Di saat seperti itu, masyarakat harus bisa tenang seperti tips ini yaitu menerima keadaan dengan berpikir positif, berhenti mencemaskan masa depan dan menikmati setia keadaan. Jadi semua itu dilakukan untuk kesehatan mental kita juga,” paparnya.

Sementara itu, Psikolog, Retno Lelyani Dewi menjelaskan, memang kondisi silaturahmi yang terbatas dari mulai tidak bisa mudik dan dilakukan komunikasi secara virtual sedikit bisa menjadi beban terhadap kejiwaan.

Namun tetap, sedikitnya bisa mengurangi rasa kerinduan. Sehingga masyarakat harus bisa memilih skala prioritas utama yakni memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Memang berdampak, tapi kita harus berpikir lebih jauh dan dampak yang ditimbulkan, jangan sampai memaksakan tapi malah menjadi bencana,” terangnya.

Dirinya mengibaratkan seperti sebuah tangan yang tersayat pisau dan di saat bersamaan terjadi kebocoran gas. Tentu secara reflek akan lebih memilih keselamatan jiwa dengan menahan rasa sakit pada tangan yang terluka.

“Ibaratnya seperti itu, tapi tetap perlu adanya fasilitas memadai juga untuk masyarakat yang melakukan semua kegiatan dengan daring,” tutupnya. (kim)