Dibunuh Suami Sendiri, Begini Firasat Terakhir Bidan Ramah Kepada Anak Bungsu

RAMAI: Silih berganti pelayat mendatangi kediaman almarhumah Imas Mulyani untuk memberikan ucapan duka mendalam. (Foto Hakim Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com- Tangisan anak bungsu dari Imas Mulyani (40) warga Kampung Pasir Waru Desa Mekarwangi Kecamatan Haurwangi memecah keramaian para pelayat di rumah duka. Kehilangan tersebut membuat anak bungsu almarhumah terus menjerit nama anaknya.

Anak bungsu yang masih duduk di kelas enam sekolah dasar (SD) tersebut meronta-ronta dan terus menangis histeris. Beberapa anggota keluarga mencoba menenangkan tangisan.

Namun ternyata, sehari sebelum korban pergi untuk selama-lamanya, almarhumah sempat berpesan agar mandiri.

“Neng harus mandiri, mamah mau pulang. Itu pesan terakhir almarhumah kepada anak bungsunya,” ujar Ucu Aisyah (48).

Pesan tersebut menjadi pesan terakhir almarhumah kepada anak bungsunya dan menjadi perbincangan terakhir antara ibu dan anak.

Ada cerita lain, pasca lebaran Idul Fitri, almarhumah sempat mengadakan acara makan-makan di salah satu keluarganya. Almarhumah sempat berucap, ini menjadi lebaran terakhir baginya.

“Sempat bilang pas lagi makan nasi liwet, enggak bakal kesini lagi. Inu nasi liwetnya enak banget, itu yang diucapkan almarhumah,” jelasnya sambil menitikkan air mata.

Kebaikan almarhumah memang sudah turun temurun diturunkan ayahnya yang juga turut membuka praktek bersama almarhumah.

Tak ada lagi bidan yang dikenal baik, tak ada lagi pelayanan yang diterima dengan ramah. Semua melebur menjadi kenangan yang pergi bersama dengan almarhumah.

Berita sebelumnya, Imas Mulyani (40) seorang bidan di Puskesmas Cikalongkulon dibunuh oleh suaminya sendiri Kusnaedi Jaelani (60) di tempat prakteknya yang tidak jauh dari rumahnya, di Kampung Pasir Waru Desa Mekarwangi Kecamatan Haurwangi, Senin (24/5). (kim)