Tangisan Histeris Iringi Kepergian Imas Mulyani, Perawat Ramah dan Suka Membantu

BERKABUNG: Sejumlah masyarakat mengiringi kepergian Imas Mulyani ke tempat peristirahatan terakhirnya. (Foto Hakim Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com- Imas Mulyani (40) perawat di Puskesmas DTP Mande asal Kampung Pasir Waru Desa Mekarwangi Kecamatan Haurwangi akhirnya dikebumikan setelah menjalani visum di RSUD Cianjur pada Selasa (25/5) siang selama kurang lebih dua jam.

Jenazah tiba di rumah duka sekitar pukul 14.00 WIB dan disambut oleh masyarakat sekitar dan keluarga besar. Isak tangis pecah saat jenazah tiba dan diturunkan dari mobil ambulan. Setelah diturunkan, jenazah disholatkan di masjid dekat dengan kediaman almarhumah.

Tak sedikit masyarakat yang datang dan menghampiri untuk melayat dan mendoakan almarhumah. Selain itu, masyarakat pun berbondong-bondong mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Tangisan histeris pecah saat jenazah akan dimasukan ke liang lahat. Anak bungsu almarhumah yang masih duduk di bangku kelas 6 SD menangis menjadi-jadi atas kepergian ibu yang disayanginya.

Hanya pesan terakhir yang diingatnya sehari sebelum ibu kandungnya tewas di tangan ayahnya sendiri Kusnaedi Jaelani (60) yang kini tengah mendekam di tahanan Polsek Bojongpicung.

Mulyana (69) ayah korban mengatakan, dirinya sangat kehilangan. Sosoknya yang sopan santun terhadap orang tua tidak pernah bisa dilupakan.

“Dari dulu sopan santun dan nurut sama kedua orang tua, banyak yang sayang sama almarhumah,” ujarnya seraya tetap tegar.

Kini, sosok yang dicintai keluarga dan masyarakat harus kembali kepada Yang Maha Kuasa. Jasa dan segala kebaikannya menjadi kenangan bagi masyarakat sekitar.

“Sedih sekali, terlebih yang suka membantu masyarakat yang tidak ada biaya untuk berobat. Semoga neng tenang disana dan diterima disisiNYA,” jelasnya. (kim)