Sosok Imas yang Meniunggal Ditangan Suami, Dikenal Sopan Santun dan Ceria Saat Bekerja

KEHILANGAN: Suasana Puskesmas DTP Mande pasca meninggalnya salah satu perawat yang dikenal ramah. (Foto Hakim Radar Cianjur)

SOSOK periang dan ramah terhadap semua orang kini hanya tinggal kenangan. Segala kebaikan dan perilaku semasa hidup, terkubur bersama dengan jasad di bawah tanah merah. Perawat itu kini hanya tinggal nama. Kehilangan dan hampa. Masyarakat sangat kehilangan sosok pelayan ramah dan tak pernah terlihat sedih.

Laporan Abdul Aziz N Hakim, Mande

RADARCIANJUR.com- Suasana Puskesmas DTP Mande Rabu (26/5) pagi seperti biasa hilir mudik masyarakat yang berobat dan menjenguk sanak keluarga yang tengah dalam perawatan. Namun, ramai pelayanan kesehatan tersebut tidak dirasakan sejumlah karyawan. Ada yang kurang. Ada yang terasa hampa.

Ya, Imas Mulyani (41) salah seorang perawat ceria yang selalu hadir di antara karyawan lainnya kini telah tiada. Keceriaannya selalu membuat pimpinan dan karyawan terhibur. Tak pernah ada raut kesedihan setiap almarhumah bekerja. Bahkan almarhumah dikenal seperti tidak memiliki masalah.

Kejadian Senin (24/5) lalu membuat pimpinan serta karyawan Puskesmas DTP Mande tidak menyangka. Perawat ramah tersebut harus meregang nyawa di tangan suaminya sendiri Kusnaedi Jaelani (60).

“Enggak pernah ada raut kesedihan, selalu ceria dan tutur katanya sopan banget,” ujar Kepala Puskesmas DTP Mande, Euis.

Ia masih mengenang, setiap kali almarhumah akan masuk ke ruangannya selalu memanggil dirinya dengan nada manja. Namun itu dimaklumi, karena memang keceriaannya.

Kejadian Senin kemarin seakan hanya mimpi. Tapi semua harus menerima yang sudah terjadi. Kapuskesmas yang selalu murah senyum ini menceritakan terakhir kalinya berbincang dengan almarhumah pada Sabtu (22/5) ketika menjalankan tugas vaksinasi.

“Hari sabtu menjadi hari terakhir kita tugas bersama, itu perbincangan terakhir. Tidak ada firasat apapun. Meski sudah tiada, tapi kita merasa masih ada (almarhumah, red),” tuturnya seraya menahan air mata.

Kenangan tidak hanya diungkapkan Kapuskesmas DTP Mande, Mulyana (69) ayah dari almarhumah menceritakan keseharian almarhumah yang selalu menaati ucapan dari kedua orang tua.

Anak yang dianggap penurut olehnya tak pernah lepas dari sikap sopan santun terhadap siapapun. Keramahannya membuat semua masyarakat di sekitar kediaman mengenal baik sosok perawat yang sudah mengabdi selama kurang lebih 14 tahun sebagai ASN.

“Sopan santun kepada siapapun, tutur katanya lembut dan tidak pernah lepas senyuman,” ucap Mulyana seraya tegar.

Lanjut pria yang kini masih melayani pasien ini, perjalanan karier almarhumah terbilang cepat dan tidak lama. Dari semenjak menjadi honorer, dirinya tidak memakan waktu tahunan untuk diangkat menjadi ASN.

“Semoga almarhumah tenang disana, mohon maaf jika ada salah kata dan perbuatan,” tutupnya. (kim)