Pasca Lebaran Banyak Klaster Baru Covid-19, Satgas COVID-19 Keluarkan Instruksi untuk Daerah

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito. Foto: Satgas Covid-19

JAKARTA – Satgas Covid-19 mengeluarkan sejumlah instruksi terkait banyaknya klaster baru pasca lebaran.

“Saya ingin kembali mengingatkan kepada seluruh daerah untuk melakukan penyelidikan epidemiologi yang lebih optimal,” ujar Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito di Graha BNPB, dilansir dari JPNN (jaringan RadarCianjur.com) Jumat (28/5/2021).

Prof Wiku menjelaskan, penyelidikan epidemiologi adalah kumpulan upaya untuk mengetahui gambaran gejala serta penyakit penyerta dan aspek kependudukan dari kasus positif Covid-19.

Mulai dari sebaran tempat atau sumber penularan, jenis kelamin, maupun usia untuk mencegah perluasan penularan dengan manajemen lanjutan yang tepat berdasarkan hasil dari pelacakan kontak.

Agar optimal, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, khususnya dalam pelacakan kontak.

Pertama, identifikasi kasus positif yang dapat diketahui dari data kesehatan puskesmas setempat ataupun dari ketua RT/RW di lingkungan.

Tahapan ini, diperlukan keterbukaan dari masyarakat saat wawancara mendalam terkait riwayat aktivitasnya.

Masyarakat juga diminta tidak menganggap Covid-19 adalah aib, tetapi masalah yang harus diselesaikan bersama agar tidak bertambah korban jiwa.

Kedua, pelacakan kontak setelah kasus positif ditemukan. Unsur posko setempat mengidentifikasi kontak melalui wawancara mendalam dengan warga yang terpapar.

Itu untuk mengetahui riwayat kontak fisiknya, baik bersentuhan atau berdekatan dengan orang yang positif atau pernah merawatnya.

Dilanjutkan tim tracing dapat menilai kontak erat dan setiap orang dalam daftar kontak erat dihubungi dan dicatat dalam data surveilans.

Ketiga, melakukan tindak lanjut dan manajemen kasus dengan mewajibkan seluruh kontak erat melakukan karantina di fasilitas karantina yang disediakan oleh posko desa/kelurahan.

Dan pada hari ke-14 akan dilakukan manajemen kasus sesuai kondisi setiap kontak erat. Bagi yang tanpa gejala, maka dapat melanjutkan aktivitas.

Jika gejala ringan, maka dilakukan testing dan isolasi di fasilitas kesehatan terdekat. Untuk gejala sedang dan berat harus testing dan dirujuk untuk isolasi dan dirawat intensif.

Dalam mendukung penyelidikan epidemiologis di setiap daerah, pemerintah telah menyediakan alternatif yang sesuai kondisi dan kemampuan daerah masing-masing.

Misalnya, mensubstitusi PCR test dengan metode testing yang lebih efisien seperti rapid test antigen.

“Khusus rapid test ini, kabar baiknya Indonesia sudah melebihi standar WHO yakni 132,08 persen meningkat dari 75,37 persen di minggu sebelumnya,” imbuh Wiku.

Saat ini juga, dari 18.638 posko atau 55,2 persen di antaranya masih belum memiliki fasilitas karantina terpusat.

Namun, Satgas di pusat meminta posko menyesuaikan kondisi di lapangan dalam upaya penanganan.

Misal, memilih opsi karantina mandiri di rumah masing-masing, dengan catatan rumah karantina sudah lulus kelayakan dan dipantau berkala.

Untuk itu, bagi posko di daerah yang memiliki kendala dapat melaporkan ke jajaran pemerintah di atasnya, yaitu jajaran di tingkat kecamatan ataupun pemerintah kabupaten/kota sebagai supervisor posko.

Pelaporan ini secara berjenjang akan diterima oleh pemerintah pusat.

“Dan pemerintah pusat berkomitmen akan mencari solusi dari permasalahan yang ada secara berimbang,” tandasnya.

Reporter: Dede Ginanjar/FJPP