Perempuan dan Anak Rentan Jadi Korban Kejahatan Seksual

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com- Kejahatan seksual terhadap perempuan kerap terjadi di berbagai kota kabupaten yang ada di Indonesia. Sehingga, perlu adanya formulasi khusus dalam segi kemananan bagi kaum hawa.

Ternyata, di ruang publik keamanan bagi perempuan belum sepenuhnya aman. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Harian Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar.

“Sepengetahuan saya belum aman seperti masih banyak terjadi pelecehan di dalam bus, angkot, kereta, pasar, mall, dan lain-lain seperti yang ada di pemberitaan-pemberitaan di media masa,” ujarnya.

Begitu pun Kabupaten Cianjur, Lidya menilai, ruang Kota Santri belum begitu aman bagi perempuan. Seperti diketahui, telah terjadi sejumlah kasus pelecehan dan pencabulan yang marak diberitakan.

“Untuk Kabupaten Cianjur saya melihat belum begitu aman karena secara kasuistik masih saja terjadi pelecehan seksual di dalam angkot yang setahun lalu pernah dialami perempuan di angkot Ciranjang. Juga, ada beberapa kasus lain yang terjadi juga di ruang publik seperti tempat wisata, mall, dan lain-lain,” ungkapnya.

Dirinya belum bisa memberikan data soal kasus pelecehan atau pencabulan akibat tidak amannya perempuan di ruang publik. Namun, selama 2019-2021 ada beberapa pengaduan langsung kepada dirinya.

“Saya lupa lagi harus slihat data dulu tapi yang mengadu atau konsul ke saya secara langsung sepertinya dari tahun 2012-2021 mungkin sekitar tiga orang,” paparnya.

Perlu peran semua pihak termasuk pemerintah untuk menangani hal ini. Lidya menyebut, ke depan perlu ada ruangan pemisah antara laki-laki dan perempuan di ruang tunggu seperti terminal dan stasiun. Kecuali dengan keluarga, boleh digabungkan.

“Pemerintah harus bisa menyediakan itu utk pemenuhan hak-hak perempuan dan anak,” terangnya.

Dirinya menjelaskan hal tersebut bertujuan meminimalisir terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak sesuai amanah Undang-undang. Sebab, sebagus apapun Undang-undang yang dibuat apabila tidak diimplementasikan bersama aparatur dan sarana prasarana yang baik, tujuan tersebut tidak akan tercapai.

“Kalau upaya kami tetap dimulai dari pencegahan dan penanganan seperti kampanye melalui media, leaflet, brosur, desiminasi atau sosialisasi akan membantu pengetahuan dan edukasi bagi masyarakat,” jelasnya.

“Diimbau agar berhati-hati dalam menjaga diri karena masih banyak orang-orang yang memanfaatkan peluang atau kesempatan untuk berbuat jahat atau kekerasan,” sambungnya.

Sementara itu, Psikolog, Retno Lelyani Dewi mengatakan, hasrat seksual, build in sejak lahir sudah ada dalam diri setiap orang. Hasrat seksual terpicu, selalu oleh rangsangan dari luar diri seperti melihat paha mulus atau penampilan wanita yang cukup menggoda, menonton video porno dan sebagainya.

“Nah karena dipicu hal-hal tersebut, pelaku mencari pelampiasan memuaskan hasrat seksual pada korban yg dianggap lemah. Maka perempuan dan anak yg menjadi sasaran. Perempuan dan anak dianggap lemah dan tidak mampu melawan,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Untuk bisa mengontrol, mengarahkan dengan tepat hasrat seksualnya, pelaku bisa menjalani terapi yang sifatnya komprehensif. Terapi keagamaan, terapi-teeapi untuk mengubah mindset, terapi perilaku, dan terapi okupasi.

“Tapi syarat utamanya memang pelaku mau sembuh, mau berubah,” singkatnya.

Menurutnya, kejahatan terjadi karena ada niat dan kesempatan. Jadi salah pelaku karena sudah ada niat untum melakukan kejahatan. Namun, kejahatan seksual tidak hanya karena penyebab adanya pelaku. Di sisi lain, dalam hal penampilan, perempuan yang beraktifitas di luar rumah diupayakan agar menggunakan pakaian yang sopan.

“Di Indonesia, mayoritas penduduk beragama Islam. Dalam Islam diatur bagaimana cara baik muslim maupun muslimah harus berpenampilan. Dengan berbusana yang sopan menutup aurat,” paparnya.

Lanjutnya, dari sisi mengurangi resiko tindak kejahatan, tentunya berbusana sopan akan mengurangi resiko. Walaupun dari sisi pelaku, jika sudah terstimulasi hasrat seksual, sesopan apapun busana, tidak mengurangi tujuannya untuk memuaskan hasrat seksualnya.

Dirinya memberikan sedikit tips bagi kaum hawa saat berada di wilayah yang dirasa berbahaya yakni menjaga sikap tubuh dengan sikap percaya diri seolah warga lokal. Bukan sikap tubuh yang ragu-ragu, tidak percaya diri, melirik ke berbagai penjuru, ketakutan karena merasa bukan org lokal.

“Sikap tubuh seperti itu akan membuat pelaku menjatuhkan pilihan karena mereka mencari korban yang dianggap lemah,” tuturnya.

Kedua, bersikap wajar namun tetap waspada saat bertemu orang. Jangan langsung percaya pada penampilan luar seperti rapi, sopan, terlihat orang alim dan sebagainya. Dalam beberapa kasus, pelaku memposisikan sebagai orang yang minta tolong, menanyakan alamat. Kemudian korban dihipnotis atau berbaik hati mengantarkan.

Ketiga, tetap tenang, pelajari situasi dan cari hal hal yang bisa membantu saat emergency. Misal mencari rumah terdekat, pos satpam dan sebagainya untuk meminta perlindungan.

Keempat, siapkan mental untuk melakukan self defense.

“Kita, perempuan boleh membela diri. Misal misal menggigit, mencakar, tinju atau pukul mata maupun daerah leher dan tendang kemaluan tersangka,” tutupnya. (kim)