Suka Duka Petugas dalam Operasi Yustisi, Diomeli sampai Dituduh Cari Uang

Pelaksanaan operasi yustisidi Kabupaten Cianjur masih gencar dilakukan demi menekan angka penularan Covid 19. Foto : Bayu Nurmuslim / Radar Cianjur.

CIANJUR – Menjadi salah satu petugas yang melaksanakan operasi yustisi untuk menegakkan protokol kesehatan ternyata penuh suka duka dan tantangan.

Itu seperti diceritakan Deni (34). Salah seorang anggota Satpol PP Kabupaten Cianjur itu mengaku sudah tak terhitung lagi berapa operasi yustisi yang diikutinya.

Entah operasi yustisi saat pagi, siang, sore atau bahkan malam, pun pernah dilakoninya bersama petugas gabungan. Selama itu pula, beragam peristiwa dialaminya.

“Kebanyakan pelanggaran ya enggak pakai masker. Kalau pelanggarnya rata. Mulai dari remaja sampai orang tua (lansia). Anak-anak sama orang tuanya juga ada,” tuturnya.

Pun demikian dengan respon dari para pelanggar protokol kesehatan saat terjaring. Ada yang malu sampai mencari-cari alasan.

“Umumnya itu pasti bilang masker ketinggalan, lupa, buru-buru. Kalau enggak ya bilang enggak punya masker,” ungkapnya.

Akan tetapi, respon yang lebih ekstrim juga pernah diterimanya dari pelanggar. Salah satu yang cukup membekas bagi Deni adalah saat ia mendapat caci maki dari seorang pelanggar prokes.

Saat itu, baru awal-awal penerapan hukuman pembayaran denda bagi pelanggar prokes dan belum banyak masyarakat yang mengetahui aturan baru tersebut.

“Saya dicaci maki, ditunjuk-tunjuk dan dituduh memanfaatkan kesempatan dengan cari-cari uang dari pelanggar. Padahal dendanya bukan buat saya,” kenang Deni.

Deni pun mengaku saat itu sudah menjelaskan panjang lebar terkait aturan baru penerapan denda bagi pelanggar prokes. Sayangnya, itu percuma.

“Malah dia yang tambah marah-marah. Kita sebagai manusia biasa juga malu kan dilihat orang banyak, di tempat umum. Dikira kita nyari duit. Padahal enggak,” tuturnya.

Namun situasi itu tidak berlangsung lama setelah petugas TNI/Polri ikut memberikan penjelasan kepada yang bersangkutan.

“Akhirnya dia dapat hukuman sosial aja, bersih-bersih, nyapu taman,” kata dia.

Pengalaman unik lain saat melaksanakan operasi yustisi adalah Deni ‘diceramahi’ oleh seorang pelanggar yang kebetulan berusia lanjut.

“Ya kita kasih pengertian kalau memang wajib pakai masker saat beraktivitas di luar,” ucapnya.

Akan tetapi, imbauannya itu malah berbalik dan berbuah ‘ceramah’.

“Orangnya ngomel enggak terima. Dibilang covid bohong lah, rekayasa, dan macem-macem,” bebernya.

Yang cukup membuatnya sedikit menahan tawa adalah, orang tersebut bercerita panjang lebar soal berbagai hal yang tidak nyambung.

“Apa aja diomongin tapi enggak nyambung. Ya namanya orang tua kan, tetap kita pelan-pelan ngasih tahunya. Ujung-ujungnya bilang kalau pakai masker dia kesulitan bernafas,” kata dia.

Cerita lain adalah saat malam lebaran kemarin ketika dia harus ikut berjaga di pos penyekatan di Segar Alam, Puncak.

“Sebenarnya itu sudah capek-capeknya. Kan waktu itu lagi diperketat penyekatan dimana-mana. Jadi istirahat kurang. Semoga yang tugas pasti juga istirahatnya kurang semua, capek semua,” beber dia.

Selain itu, malam lebaran yang biasanya ia bisa berkumpul bersama keluarga, tidak bisa dilakukan.

“Maunya sih bisa kumpul bareng keluarga. Tapi yang namanya kalau sudah tugas ya harus dijalankan. Enggak bisa ditinggal,” kata pria yang masih berstatus honorer ini.

Harapan Deni pun sama dengan harapan semua masyarakat se-Indonesia lainnya. Yakni, pandemi Covid-19 secepatnya berakhir.

“Sudah capek gini terus. Makanya, ya harus disiplin prokes lah. Kalau masih saja ada yang enggak disiplin prokes, ya sulit juga ini berantas covid,” tandasnya.

Reporter: Dede Ginanjar/FJPP