Program Kemenag PDF Pontren Masih Minim di Kabupaten Cianjur

Kementerian Agama Kabupaten Cianjur.

RADARCIANJUR com- Satuan pendidikan formal secara nasional telah bertambah dengan munculnya Pendidikan Diniyah Formal yang disingkat PDF.

PDF ini diluncurkan Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia sebagai satuan baru dalam peta pendidikan formal di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) No.13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam.

PMA ini sendiri merupakan turunan atas Peraturan Pemerintah No.55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan yang merupakan implementasi dari UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Jika sebelumnya hanya mengenal pendidikan formal seperti sekolah dengan jenjang pendidikan yang dimulai dari tingkat SD, SMP, SMA dan berlanjut perguruan tinggi umum, serta madrasah yang dimulai dari MI, MTs, MA dan berlanjut ke perguruan tinggi keagamaan Islam.

Maka kini peta itu bertambah dengan munculnya PDF yang dimulai dari tingkat ula (dasar), wustha (menengah), ulya (tinggi) dan kemudian berlanjut ke tingkat Ma’had Aly.

Program Pesantren PDF tak hanya ada di kota atau kabupaten lainya akan tetapi Kabupaten Cianjur kini memiliki pesantren dengan program PDF.

Kepala Seksi (Kasi) PD Pontren Kemenag Cianjur Taviv Supriyadi mengatakan, Pondok Pesantren Kabupaten Cianjur ada yang telah mendapatkan program PDF pada tahun 2019.

“Hanya ada satu-satunya pontren yang mendapatkan program PDF di Cianjur yaitu As Salafiyah Khodijiyah yang berada di Kampung Kadudampit Desa Rancagoong, Kecamatan Cilaku,”katanya kepada Radar Cianjur, Rabu/02/05/2021.

Namun menurut Taviv, pondok pesantren tersebut saat ini hanya memiliki 2 tingkatan program PDF.

“Saat ini hanya ada tingkat diantaranya wustha (menengah) setara dengan SLTP dan ulya (tinggi) setara dengan SMA, kalau Ma’had ‘Aly setara perguruan tinggi belum ada,”tuturnya.

Taviv menjelaskan, minimnya pondok pesantren di Kabupaten Cianjur yang mendapatkan program PDF karena beberapa faktor.

“Untuk kendala sedikitnya pontren yang memiliki program PDF karena perijinannya yang sulit. Perijinan nya tidak di keluarkan kemenag kabupaten dan provinsi akan tetapi langsung oleh Kemenag pusat,”ungkapnya.

Selain itu Program PDF dapat diajukan dengan syarat pondok pesantren tersebut memiliki santri minimal 300 orang.

“Santri nya paling tidak 300 orang baru dapat diajukan menjadi pondok pesantren progam PDF,” ucapnya.

Saat ini pihaknya tengah mendorong kepada pesantren pesantren agar dapat mengajukan program PDF.

“Program ini sangat membantu untuk para lulusan pesantren agar dapat bersaing dengan lulusan-lulusan tingkat sekolah umum lainnya, karena ijazah nya setara atau sama,”tandasnya.(byu)