Karang Taruna Pecah Dua Kubu, Tapi Belum Ada Kejelasan

KLARIFIKASI: Ketua Karang Taruna Kabupaten Cianjur versi TKLB Bydiel, Bayu Eka Prayoga memberikan pernyataan kepada awak media di Hotel Bydiel. (Foto Hakim Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com- Kepengurusan organisasi Karang Taruna Kabupaten Cianjur masih terasa panas. Pasalnya, hadir dua kubu yang mengklaim masing-masing pihak menjadi nahkoda resmi. Namun, belum ada SK yang keluar terkait Temu Karya Luar Biasa (TKLB) versi Ciloto maupun Bydiel.

Dari kedua pihak pun saling angkat bicara di hadapan awak media mengenai hal tersebut. Meski hingga saat ini belum ada kejelasan dari kedua belah pihak.

Peninjau Karang Taruna Jawa Barat, Cece Saepulloh yang ikut hadir dalam TKLB versi Bydiel pada 24 Mei lalu menjelaskan, TKLB Bydiel dilaksanakan atas ajuan forum ketua Karang Taruna kecamatan.

“Temu Karya Bydiel merupakan ajuan forum ketua kecamatan atas dasar yang mereka sampaikan terkait Caretaker provinsi yang tidak diberitahukan secara normatif dan tidak ada sosialisasi dan komunikasi khusus kepada pengurus kecamatan yang aktif,” ujarnya.

Forum Ketua Karang Taruna Kecmamatan, lanjutnya, mengabarkan pada Cece bahwa TKLB versi Ciloto tidak netral dan tidak sesuai nekanisme tata tertib. TKLB Bydiel dihadiri 14 ketua kecamatan dan delapan mandat sehingga dinilai memenuhi syarat.

“Forum itu mengunformasikan pada saya bahwa temu karya Ciloto memihak salah satu calon, (ketua Karang Taruna, red)” ungkapnya.

Meskipun demikian, Karang Taruna Jawa Barat berharap kepengurusan di Cianjur bisa kembali utuh. Ia menyebut pasti ada langkah terbaik untuk karang taruna.

“Yang saya ketahui masing-masing kubu memiliki argumen masing-masing dan sampai saat ini masih fokus masing-masing,” jelasnya.

Tetapi, Cece belum bisa menyampaikan soal TKLB mana yang legal dan sah. Ia menjawab ada beberapa tahapan yang perlu dilalui dan kaji.

“Kalau itu belum bisa menyampaikan berhubung ada beberapa aturan yang harus dikaji baik secara organisasi dan pedoman dasar jadi saya beum bisa menjawab yang mana yang sah,” terangnya.

Pengurus Karang Taruna Jawa Barat pun menghadiri kedua TKLB. Namun, dalam TKLB Bydiel, Cece yang hadir sebagai peninjau.

“Kalau saya melihat dan meninjau ini terkait aturan dua-duanya sesuai aturan karena temu karya ini kembali kepada hak yang punya suara,” paparnya.

Ketua Karang Taruna Kabupaten Cianjur versi TKLB Bydiel, Bayu Eka Prayoga mengatakan, ia didorong forum ketua kecamatan untuk melaksanakan TKLB.

“Yang jelas saya didorong forum kecamatan untuk melaksanakan temu karya, administrasi ditempuh, jadi endingnya kita lihat siapayang mendapatkan SK,” singkatnya.

Sementara itu, Ketua Karang Taruna Cianjur versi TKLB Ciloto, Mudrikah menanggapi dinamika ini sebagai hal wajar dalam organisasi dan demokrasi. Namun, ia mengajak seluruh anggota Karang Taruna untuk memahami regulasi baik Permensos dan AD/ART.

“Boleh siapapun menjadi ketua kartun tapi lalui regulasi tadi AD/ART jelas mengatur,” ujarnya.

Pihaknya menyerahkan hasil TKLB kedua kubu kepada panitia yaitu Karang Taruna Jawa Barat. Ia menyebut, pihaknya sudah di-caretaker oleh Karang Taruna Jawa Barat yang diketuai Deni Komaidi.

“Sehingga pada saat itu saya demisioner, Caretaker punya kewajiban salah satunya membentukan panitia dan SK SC dan itu dari provinsi, untuk melaksanakan temu karya,” paparnya.

Mudrikah mengaku tidak berkapasitas dalam menentukan TKLB mana yang legal dan sah. Dirinya mengaku mencalonkan diri dengan administrasi yang benar, aalah satunya harus menjadi pengurus selama satu periode.

“Sehingga syarat yang saya pakai adalah sk saya zaman Tjetjep Muchtar Soleh saat saya menjadi kabid,” tutupnya. (kim)