Sesar Cimandiri Jadi Ancaman Cianjur

Ilustrasi Gempa (Istimewa).

RADARCIANJUR.com- Lempengan sesar Cimandiri yang merupakan patahan geser aktif membentang di bagian barat dari Provinsi Jawa Barat dari Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi dan mengarah ke timur laut melewati Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang.

Sesar ini pun mengalami pertemuan dengan sesar Lembang di wilayah Padalarang dan sesar Baribis di Subang yang bergerak dengan kecepatan geser 4-6 mili meter per tahun.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, wilayah yang terlintasi tidak sepenuhnya turut berada di kawasan sesar Cimandiri, hanya empat kecamatan berada di zona tersebut yakni Campaka, Cibeber, Bojongpicung dan Haurwangi.

Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung, Teguh Rahayu mengatakan, secara garis besar sumber gempa-gempa di Jawa, termasuk Jawa Barat terdiri dari dua sumber yaitu dari Subduksi Selatan Jawa serta gempa-gempa yang berpusat di daratan yang di sebut Sesar atau Patahan.

“Sesar-sesar yang sudah teridentifikasi dengan baik diantaranya Sesar Citarik, Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, Sesar Garsela serta Sesar Baribis. Dari sekian sesar yang ada di Jawa Barat, Sesar Cimandiri merupakan sesar yang paling aktif, ini terbukti dari tingginya frekuensi gempa yang dihasilkan oleh Sesar Cimandiri ini, puluhan gempa bumi terdeteksi dengan baik oleh jaringan seismograph BMKG,” ujarnya.

Lanjutnya, bahkan mencapai angka ratusan dalam setiap tahunnya. Sesar Cimandiri membentang mulai dari Teluk Pelabuhanratu-Sukabumi-Cianjur dan berujung di Wilayah Padalarang Kabupaten Bandung Barat. Sesar Cimandiri terbagi bagi menjadi beberapa segmen dan banyak pemukiman, sekolah, perkantoran serta aktivitas perekonomian di wilayah-wilayah tersebut.

 

Dari sejarah kegempaan yang disebabkan oleh Sesar Cimandiri, sudah beberapa kali terjadi gempa yang dirasakan dengan magnitudo yang bervariasi.

 

Berdasarkan catatan sejarah kegempaan di Jawa Barat, pada tahun 1844, tepatnya 15 Februari, wilayah Cianjur diguncang gempa bumi dengan skala MMI VII -VIII, kemudian 14 Januari 1900, Sukabumi di guncang gempa bumi dengan skala MMI mencapai skala VII, pada 15 Desember 1910 wilayah Rajamandala juga diguncang gempa bumi dengan skala MMI mencapai VI. Pada 11 Februari 1969 wilayah Sukabumi juga diguncang gempa bumi dengan magnitudo 5.4 dengan kedalaman 57 kilometer dan dirasakan V MMI. Pada tahun 1982 tepatnya 10 Februari, Sukabumi diguncang gempa bumi dengan magnitudo 5 5 dengan kedalaman 25 km dan dirasakan VI-VII MMI di Sukabumi dan Bogor.

Pada 7 Desember 2000, Sesar Cimandiri juga memperlihatkan aktivitasnya dengan merelease gempa bumi 5.1 dengan kedalaman 33 km dan dirasakan V-VI MMI hampir di seluruh wilayah Sukabumi serta menimbulkan kerusakan pada bangunan baik rusak berat hingga ringan.

“Karena fenomena gempa bumi sampai saat ini belum dapat dipredikasi kapan dan berapa besar kekuatannya yang akan terjadi, maka mitigasinya adalah bisa secara struktural maupun non struktural,” katanya.

Teguh menambahkan, mitigasi struktural untuk bangunan atau insfrastuktur yang harus mengikuti building code dari dinas terkait, sedangkan mitigasi non struktural adalah dengan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat yang berada di sekitar Sesar Cimandiri harus mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum, saat ataupun sesudah gempa bumi.

“Saat silence seperti sekarang, maka kenali lingkungan dimana kita berada, di rumah, di sekolah, di kantor, kemana arah evakuasi yang akan dituju jika tiba-tiba terjadi gempa bumi, serta apa yang harus dilakukan saat merasakan guncangan,” tutupnya. (kim)