Tepis Isu Kawin Kontrak di Kota Bunga, Ketua MUI Pacet: Itu Tidak Ada

Kawasan wisata Kota Bunga, Kecamatan Pacet, kabupaten Cianjur. Foto: Dadan Suherman/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Isu terjadinya kawin kontrak di wilayah Kabupaten Cianjur hingga saat ini masih menjadi perbincangan hangat di masyarakat.

Terlebih praktik mut’ah tersebut diduga terjadi di kawasan wisata Kota Bunga, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.

Menanggapi hal itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, H. Ade Mukhlis buka suara. Ia menuturkan, berdasarkan fatwa mengenai kawin kontrak, tentu sudah jelas dikeluarkan Dewan Pimpinan MUI sejak 25 Oktober 1997 silam, bahwa dalam fatwanya MUI memutuskan, nikah kontrak atau mut’ah itu hukumnya haram.

“Praktek kawin kontrak itu sudah dilarang sejak zaman rasul. Jadi selama saya menjabat sebagai ketua MUI Pacet, dan berdasarkan penelusuran di tiga KUA, yakni Pacet, Cipanas serta Sukaresmi, yang namanya praktik kawin kontrak di sini itu tidak ada,” ujar H. Ade saat dikonfirmasi radarcianjur.com, Rabu (23/6/2021).

Di sisi lain, lanjut Ade, adanya Peraturan bupati (Perbup) tentang larangan Kawin Kontrak yang telah diteken Bupati beberapa waktu lalu, pihaknya sangat tidak keberatan. Namun, yang menjadi hal kurang pas yaitu adanya sejumlah pihak yang menyatakan bahwa kawasan villa Kota Bunga ini menjadi tempat maraknya kawin mut’ah.

“Saya bantah dengan tegas itu tidak ada. Jangan sekali-kali menduga bahwa di wilayah Pacet ini terjadi kawin mut’ah, karena bisa menjadi fitnah,” kata Ade.

Bahkan, menurut Ade, jika di kawasan Pacet itu pernah terjadi nikah mut’ah, jelas itu tak benar. “Kalau ada pihak yang pernah melihat kejadiannya, iya harus menghadirkan berbagai ahli. Apakah itu nikah kontrak atau bukan,” kata dia.

Selain itu, ia mengungkapkan, beberapa temuan di saat menggelar operasi cipta kondisi bersama Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) khususnya di kawasan Villa Kota Bunga, hanya pasangan yang bukan muhrim.

“Kalaupun ada temuan saat operasi rutin Cipkon yang digelar petugas gabungan bersama pemerintah setempat, di tempat ini hanya menemukan kasus prostitusi atau tracfiking saja,” tuturnya.

Sementara itu, manager villa Kota Bunga Franky Kumonong mengatakan, pihaknya sampai dengan saat ini tidak pernah menemukan adanya kegiatan praktik kawin kontrak.

“Kami di sini sudah punya aturan untuk kegiatan atau acara. Biasanya kalau ada kumpul-kumpul, harus menanyakan izin keramaian dari Desa dan Kepolisian,” kata dia kepada wartawan kemarin.

Kendati begitu, pihaknya tetap mengapresiasi dan mendukung adanya Perbup larangan kawin kontrak yang Bupati Cianjur Herman Suherman launchingkan di kawasannya.

“Kalau peraturan bupati pasti tujuannya baik, tapi untuk kegiatan nikah kontrak di sini, tak ada kawin kontrak,” tegasnya.

Adanya aturan tersebut menurutnya, karena bisa saja menjadi antisipasi Pemerintah untuk mencegah jika ada yang melakukan praktek Kawin Kontrak.

“Mungkin karena di sini banyak wisatawan timur tengah, makanya dibikin peraturan tersebut untuk pencegahan. Kami juga setuju tidak ada kawin kontrak di Cianjur ini,” tandasnya. (dan)