Mulai Masuk Musim Kemarau, Masyarakat Diminta Tetap Waspada

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com- Kondisi cuaca belakangan ini khususnya di Jawa Barat cukup terasa dingin. Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung mencatat, cuaca berkisar 17,6 derajat celcius. Kondisi tersebut masih terbilang normal dikarenakan adanya angin dominan yakni angin tenggara (monsun australia) yang membawa udara dingin dan kering.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat wilayah Indonesia yang telah memasuki musim kemarau adalah 63,16 persen dari 342 zona musim. Untuk wilayah Jawa Barat, wilayah Utara sudah memasuki musim kemarau. Puncak musim kemarau 2021 di Jawa Barat diprediksi terjadi pada Agustu-September 2021. Wilayah Bandung Raya sudah memasuki musim kemarau pada awal Juli dasarian I 2021.

“Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer terkini BMKG, pada level pengaruh skala global terhadap Jawa Barat, indeks ENSO menunjukkan kondisi netral (indeks ENSO -0,14), dan sebagian besar institusi memprediksi kondisi netral setidaknya akan berlangsung hingga September 2021 dan menjadi La Nina Lemah pada Oktober hingga Desember 2021. Indeks
Dipole Mode menunjukkan kondisi IOD Negatif (-0,46), dan diprediksi akan kembali netral hingga Desember 2021. Sedangkan anomali SST menunjukkan kondisi netral dengan anomali
antara -0,25 oC hingga 2,0 oC. Tidak ada anomali di wilayah Laut Jawa,” ujar Kepala Stasiun BMKG Bandung, Teguh Rahayu.

Lanjutnya, pada level pengaruh regional, MJO terpantau aktif dengan intensitas lemah pada fase satu dan akan memasuki fase dua hingga empat pada awal Dasarian II Juli 2021. Berdasarkan peta prediksi spasial anomali OLR, Jawa Barat termasuk wilayah dengan OLR konvektif lemah (agak basah) hingga akhir Dasarian III Juni 2021 dan akan semakin menguat sampai dengan pertengahan Dasarian II Juli 2021.

“Jawa Barat dipengaruh Monsun Australia hingga berpengaruh pada menurunnya aktivitas konvektif dan pembentukan awan di wilayah Jawa Barat pada umumnya,” paparnya.

Kondisi dinamika atmosfer lokal wilayah Jawa Barat pada umumnya mulai memasuki kondisi stabil-labil. Hal ini ditunjukan dengan Lifted Index bernilai -1 hingga -4 dan nilai K Index 35 <= 38. Pantauan nilai kelembapan relatif (RH) masih tinggi dengan rentang antara 50%-95% terutama pada siang hingga malam hari, dari level permukaan hingga ketinggian 850 mb.

Hasil analisis dari kondisi atmosferik global hingga lokal diatas berpengaruh pada supresi pertumbuhan awan konvektif di wilayah Jawa Barat pada umumnya. Sehingga kejadian hujan di wilayah Jawa Barat dan Bandung Raya mulai menurun.

Angin di wilayah Indonesia bagian utara dominan bergerak dari Tenggara-Barat Daya dengan kecepatan angin berkisar 5-20 knot, sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan
dominan bergerak dari Timur-Selatan dengan kecepatan angin berkisar 5-25 knot. Ketinggian gelombang maksimum pqda tanggal 6 Juli 2021 di perairan Utara Jawa Barat berkisar antara 0,0–1,0 meter dan di perairan Selatan Jawa Barat berkisar antara 2,0-3,5 meter.

“Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan oleh kondisi cuaca yang dinamis pada musim kemarau ini. Masih ada peluang kecil terjadi bencana meteorologis terutama angin kencang dan puting beliung. Bagi yang sedang dalam perjalanan di jalan raya, apabila terjadi cuaca ekstrim seperti angin kencang, diharapkan segera menepi dan masuk ke gedung, hindari berlindung di bawah pohon besar pada kondisi demikian, menjauhi tebing jika berada di wilayah yang berbukit,” imbaunya.

Hal yang perlu diwaspadai oleh masyarakat saat ini adalah tetap tenang dan waspada, berhati-
hati ketika beraktifitas di luar rumah dan mengurangi kegiatan di luar apabila tidak penting. Mencari informasi resmi kebencanaan dari pihak yang berhubungan langsung seperti BNPB, BMKG, TAGANA, TNI, Polri dan aparat Pemerintahan setempat.

“Berkaitan dengan peringatan dini tinggi gelombang, bagi masyarakat yang berkepentingan ke wilayah pesisir perairan Selatan Jawa Barat, diharapkan agar selalu berhati-hati dan memperhatikan rambu-rambu keselamatan yang ada,” tutupnya. (kim)