Pengunjung Pasar Anjlok, Penyumbang PAD ‘Jongklok’

Kondisi pasar rakyat Cipanas di salah satu sisi pasca penerapan PPKM darurat. Foto: Dadan Suherman/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Penerapan PPKM mikro darurat di Indonesia tengah dilakukan. Namun efek domino yang terjadi meski baru beberapa hari ini, tak hanya berimbas pada masyarakat umum, tetapi secara otomatis terjadi pada penurunan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Salah satu penyumbang tersebut adalah pasar rakyat yang dikelola Pemkab Cianjur. Dimana pundi – pundi untuk menopang APBD Kabupaten Cianjur itu diperkirakan turun selama pengetatan mobilisasi masyarakat beberapa pekan kedepan.

Kepala Bidang Perdagangan Diskoperindag Kabupaten Cianjur, Nana Rukmana menyebut, adanya upaya pemerintah dalam menekan angka penyebaran Covid-19 kali ini tentunya bakal berimbas pada penurunan PAD. Meskipun, di sisi lain, langkah tersebut diharapkan bisa lebih efektif dalam penanggulangan pandemi Covid saat ini.

Salah satu contoh penurunan PAD itu, lanjutnya, berasal dari retribusi pasar khususnya yang dikelola Pemkab. Karena seluruh kios atau los penjual sandang (non sembako), kini terpaksa harus ditutup sementara selama dua pekan kedepan.

“Selama tiga hari kemarin saja pengunjung pasar tradisional turun drastis. Apalagi dengan penutupan pedagang sandang mulai kemarin, jelas akan berimbas pada PAD pasar dari retribusi selama ini,” ujar Nana saat dihubungi, Selasa (6/7/2021).

Lebih lanjut ia menyebutkan, penurunan PAD itu diperkirakan mencapai 60 persen bahkan lebih. Karena pelaku usaha seperti pedagang kain, pakaian, salon, perhiasan, dan lain sebagainya harus tutup sementara.

“Bagaimanapun kami tetap harus sama-sama mendukung upaya pemerintah ini demi menekan laju penyebaran Covid-19 khususnya di kabupaten Cianjur,” kata dia.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Rabu (7/7/2021) siang, para pengunjung atau konsumen yang datang, tak seperti biasanya. Lokasi parkir di basemen pasar Cipanas tampak begitu mengalami penurunan signifikan.

Hal tersebut dibenarkan salah seorang juru parkir Pasar Cipanas, bernama Heri. Ia mengungkapkan, bahwa sejak adanya pemberlakuan upaya pemerintah itu, pengunjung yang biasanya menggunakan kendaraan baik roda dua maupun empat, kini anjlok sekitar lebih dari 60 persen.

“Iya kang memang jelas terasa. Karena kendaraan yang biasa parkir di sini cukup padat bahkan hampir tak tertampung, empat hari ini sangat anjlok. Paling hanya setengahnya. Itupun gabung dengan kendaraan para pedagang,” kata dia.

Turunnya jumlah kendaraan yang parkir, jelas menjadi salah satu acuan anjloknya pengunjung atau konsumen yang akan berbelanja ke pasar rakyat Cipanas ini.

“Kan jelas ya, ketika saya menjadi juru parkir di sini sangat tahu. Bagaimana peningkatan dan penurunan pengunjung pasar setiap harinya,” ujar dia.

Kepala UPTD Pasar Cipanas, Heru Haerul Hakim membenarkan adanya penurunan pengunjung pasar selama PPKM darurat berlangsung. Ia menyebut, penurunan tersebut tentunya berimbas pula terhadap PAD yang masuk.

“Pengunjung pasar itu selama beberapa hari kemarin sudah sepi kang. Ditambah kondisi pedagang sandang kini harus ditutup sementara. Jelas bakal berdampak,” kata Heru, Selasa (6/7).

Ia menyebut, penurunan PAD pasar Cipanas adanya penerapan ini diperkirakan mencapai 90 persen. Karena menurutnya, pendapatan dari hasil retribusi pun hanya menyasar para pedagang Sembako saja.

“Paling PAD pasar yang terserap hanya mencapai 5 hingga 7 persen saja selama terjadinya penurunan pengunjung dan tutupnya para pedagang sandang. Karena retribusi yang masuk, hanya sekitar 300 los atau kios,” terangnya.

Kendati begitu, pihaknya kini telah melakukan upaya menjalankan solusi bagi para pedagang serta menekan biaya operasional di masa PPKM darurat selama terjadi penurunan pendapatan pasar.

“Kami sudah melayangkan surat ke sejumlah pihak supaya bisa memberikan keringanan bagi para pedagang yang tutup, karena mereka jelas tidak akan dapat penghasilan. Salah satunya ke perbankan atau instansi lainnya,” tandasnya. (dan)