Jalani Isoman, Lima Warga Cianjur Meninggal Dunia

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com- Pasca penuhnya sejumlah rumah sakit di Kabupaten Cianjur, masyarakat dengan gejala ringan dan sedang banyak melakukan isolasi mandiri (isoman). Namun, masyarakat perlu memperhatikan mengenai penunjang alat kesehatan seperti tabung oksigen.

Ternyata, di Kabupaten Cianjur tak sedikit masyarakat yang menjalani isoman berjuang melawan Covid-19 meninggal dunia. Hal tersebut dipaparkan Jubir Satgas Penanganan dan Percepatan Covid-19 Kabupaten Cianjur, dr Yusman Faisal.

Ia menuturkan, rata-rata masyarakat isoman yang meninggal dunia dikarenakan gejala yang sudah berat dengan komorbit di atas usia 40 tahun.

“Kemungkinan meninggal masyarakat yang isoman meninggal karena minimnya peralatan kesehatan di rumah,” ujarnya.

Lanjutnya, mengenai jumlahnya, Yusman belum mengetahui secara pasti. Pasalnya, data tersebut belum diklasifikasikan isoman atau bukan.

“Kalau jumlah pastinya kita belum dapat data dari puskesmas-puskesmas, karena harus diklasifikasikan terlebih dahulu. Ada lebih dari lima selama PPKM darurat ini,” terangnya.

“Seperti baru-baru ini ada pasien terkonfirmasi positif di Cianjur Kota, baru sampai bed IGD namun meninggal,” sambungnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Cianjur, dr Irvan Nur Fauzy mengatakan, pasien isoman yang meninggal dunia dalam kurun waktu kurang lebih dua pekan sebanyak lima orang.

“Informasinya ada, data pastinya belum dapat. Tapi kami masih mengumpulkan datanya, kurang lebih lima,” paparnya.

Pihaknya pun mengimbau kepada masyarakat yang menjalani isoman agar tidak hanya melakukan pemeriksaan diagnosis ke laboratorium saja. Namun turut menginformasikan kepada puskesmas terdekat.

“Yang pertama pasien yang terkena Covid-19 secara diagnosis laboratorium harus mengakses di dokter di pelayanan prima baik itu puskesmas atau klinik. Tidak cukup hanya dengan pemeriksaan saja tapi harus mendapatkan pelayanan di dokter pelayanan prima saja. Harus diinformasikan agar bisa dilakukan pemantauan. Ada yang tidak melakukan hal tersebut, sehingga memberikan informasi dalam kondisi kritis bahkan meninggal dunia,” jelasnya.

Lanjutnya, pasien bergejala ringan dan tanpa gejala jangan panik, segera menghubungi Dinkes atau puskesmas setempat agar mendapatkan pantauan. Sehingga tidak perlu ke rumah sakit.

Faktor selanjutnya, perlu adanya pemantauan. Sehingga nakes di puskesmas perlu melakukan pemantauan berkala terutama dengan komorbit yang harus mendapatkan perlakuan khusus.

“Terlebih yang komorbit itu perlu mendapatkan perlakuan dan pemantauan khusus,” tutupnya. (kim)