Kemenkes Khawatirkan Penularan Virus Pada Anak, Perlu Edukasi Masif

RADARCIANJUR.Com Program vaksinasi kepada anak usia 12 hingga 17 tahun sudah mulai dilakukan pemerintah. Namun masih banyak anak, terutama orang tua yang tidak memahami pentingnya vaksinasi.

Juru Bicara Vaksin Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa hal ini dapat menjadi potensi penyebaran Covid-19 pada anak-anak.

“Kalau anak tidak paham, orang tua juga tidak mau (anak divaksin), ini berpotensi menyebabkan penularan, edukasi ini sangat penting, krusial sekali ini,” kata dia dalam konferensi pers daring, Minggu (11/7) kemarin.

Dorongan vaksinasi kepada anak usia pelajar itu juga harus didukung oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

“Rekomendasi yang baik untuk Kemendikbudristek dari kami adalah melaksanakan penyelenggaraan vaksinasi ini bisa diakselerasi,” imbuh Nadia.

Menurutnya, akselerasi dari Kemendikbudristek tersebut diperlukan agar sekolah juga mendorong berjalannya vaksinasi kepada pelajar. Harapannya dapat berjalan selancar program vaksinasi polio.

“Seperti ketika melakukan vaksinasi campak rubela, polio dan sebagainya. Ini akan ada koordinasi lebih lanjut di level dinas kesehatan provinsi dan kabupaten kota tentang pelaksanaan vaksinasi pada anak 12 sampai 17 tahun,” tutup dia.

Sebagai informasi, dari survei nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) sebanyak 36,7 persen dari 9.287 orang tua ragu dan tidak setuju anaknya divaksinasi. Sementara 63,3 persen menyatakan setuju anaknya divaksinasi.

Untuk alasan orang tua ragu-ragu dan tidak setuju vaksinasi adalah orang tua khawatir vaksinasi akan berdampak buruk pada anak setelah divaksinasi dan orang tua khawatir tujuan vaksinasi bukan untuk kesehatan. Lalu, alasan lainnya anak memiliki penyakit dan vaksin tidak halal. Kemudian, menurut orang tua vaksin belum teruji.(mg/jpc)