PMII Cianjur Soroti PPKM Darurat

PERSATUAN Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Cianjur soroti PPKM Darurat.

RADARCIANJUR.com – Di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro darurat di Kabupaten Cianjur, mendapatkan sorotan dari Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Cianjur.

Relevansi gerakan mahasiswa ditengah pelaksanaan PPKM sejak tiga juli sampai dengan 20 juli mendatang, pemerintah resmi memberlakukan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat di jawa dan bali. Hal ini tenuti berdampak langsung terhadap situasi ekonomi dan ketersediaan pangan di masyarakat.

Berbagai masalah timbul, yang paling dirasakan adalah terbatasnya ketersediaan pangan di masyarakat, hal ini juga terlontar di dalam diskusi terbatas yang dilakukan oleh kader.

PMII STISIP Guna Nusantara Cianjur, Akbar mengatakan, bahwa bagi masyarakat biasa, terutama pelaku usaha dagang kecil, sudah tidak bisa lagi berjualan terlebih waktu berdagang dibatasi.

“Para pedagang kecil mana bisa berjualan, mereka mecari sesuap nasipun sekarang susah dengan PPKM ini,” ujarnya.

Lanjutnya, bahwa di situasi saat ini, peran pemerintah daerah baik eksekutif dan legislatif, harus lebih ekstra dan bias melakukan berbagai program strategis, tidak hanya mengandalkan bantuan pemerintah pusat.

“Fungsi legislasi juga harus jalan bagaimana mereka bisa menyampaikan apa yang hari ini dirasakan masyarakat, dan melakukan kontrol program langsung kebawah,” terangnya.

Sementara itu, salah satu Kader PMII Cianjur wahyudi menambahkan, bahwa penyaluran bantuan pemerintah yang saat ini harus sampai kepada masyarakat penerima secara merata, sebab disinyalir bantuan yang ada juga banyak yang belum tersalurkan secara maksimal.

“Jika fungsi kontrol dari pemerintah sudah tidak jalan lagi dengan kata lain kita selaku mahasiswa juga harus mampu mengambil peran strategis, agar masyarakat juga bias merasakan apa yang menjadi haknya. Hal ini tentu kita selaku agen of change juga harus betul-betul melakukan upaya pengisian kekosongan fungsi pemerintah di atas agar bias berbuat lebih banyak bagi masyarakat,” paparnya.

Hal senada juga disampaikan peserta diskusi, acep, menurutnya upaya yang harus mahasiswa lakukan adalah langsung terjun kebawah mengawal masyarakat yang betul-betul mengalami kesulitan, dimulai dari lingkungan tempat tinggal, dari mendata dari tingkat Rt dan menyampaikannya kepada desa agar bias refocusing anggaran DD untuk dijadikan bantuan langsung tunai.

Selain itu, PMII pun mendiskusikan berbagai upaya gerakan mahasiswa agar mampu menyerap aspirasi masyarakat, melalui media sosial dan media massa, agar mahasiswa mampu mengedepankan nilai-nilai solidaritas di tengah masyarakat, sehingga selaras dengan pencegahan penularan Covid-19, disamping itu juga bisa mendapatkan haknya. (kim)