PPKM Darurat Bikin Harga Cabai di Pasar Cipanas Semakin Pedas

PEDAGANG sayur mayur di Pasar Cipanas, Cianjur. Foto: Dadan Suherman/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Harga cabai rawit merah di pasar rakyat Cipanas, Cianjur terpantau mengalami kenaikan sejak beberapa hari kemarin hingga kini. Bahkan harganya saat ini sudah menyentuh 60 ribu per kilogram.

Seorang pedagang sayur di Pasar Cipanas, Hadi Sapaat (39) menuturkan, kenaikan harga cabai rawit ini terjadi saat memasuki masa PPKM Darurat.

Sebelum PPKM Darurat kata dia, harga cabai rawit merah berada di kisaran Rp 30 ribu per kilogramnya.

Ia menduga, kenaikan ini akibat adanya sejumlah pembatasan selama PPKM Darurat diterapkan sehingga distribusi serta pasokan cabai rawit terganggu.

“Kenaikan ini sudah lebih dari sepekan. Kemungkinan karena pasokan dari petani atau distributor di luar Cianjur terhambat atas aturan PPKM darurat,” kata dia.

Ditambah, lanjut Hadi, imbas dari penutupan seluruh toko atau pedagang non esensial yang selama aturan ini berlaku, mesti tutup. Sehingga konsumen yang datang pun otomatis jadi berkurang.

“Bukan hanya berdampak pada kenaikan harga cabai, juga berimbas pada penurunan omset kami yang berjualan sayur mayur atau sembako khususnya di pasar Cipanas,” kata dia.

Selain itu, ia menyebutkan, harga cabe merah keriting menurutnya masih terbilang stabil. Ia masih menjual dikisaran Rp 17 ribu sampai Rp 20 ribu. Adapun cabe rawit ijo dijual mulai dari Rp 20-30 ribu per kilogram.

“Alhamdulillah untuk beberapa jenis cabai selain rawit merah, masih terbilang stabil. Tapi tetap, omset kita pun karena dampak PPKM Darurat ini ikut tergerus,” ungkapnya.

Ia mengatakan, penurunan omset penjualan di saat PPKM Darurat ini berlangsung bisa mencapai 50 persen. “Jadi hampir setengahnya para pembeli sayur dan sembako lainnya ikut turun. Karena 50 persen pertokoan lainnya tidak buka,” tandasnya.

Hal sama dikatakan seorang penjual lotek dan rujak uleg di Jalur Cipanas. Mamang (50 tahun) mengaku, kenaikan harga tersebut tentunya berdampak pada pengeluaran modal berdagang. Namun, tidak begitu mempengaruhi kualitas olahan masakannya.

“Kalau dikurangin nanti beda rasanya. Apalagi untuk panganan jenis lotek dan petis (rujak), itu kan rata-rata pakai cabai. Makanya kami tetap jaga kualitas jualan ini, meskipun harga beberapa bahan tengah meroket,” kata dia.

Meski begitu, ia mengaku, adanya kenaikan harga tersebut merupakan risiko dari berdagang. Oleh karenanya, ia tidak akan mengurangi penggunaan cabai dalam olahan masakannya karena khawatir nantinya akan kehilangan pelanggan.

“Engga, ini sebenarnya risiko kita tukang jualan nasi dan lauk pauk. Jualan kan ada juga murahnya, ada kala tengah naik. Nah pas lagi mahalnya, ya ini risiko,” ucap dia.

Dirinya sangat berharap, pandemi Covid serta aturan PPKM Darurat oleh pemerintah ini bisa segera usai. Sehingga pendapatan dan harga sejumlah bahan pokok bisa terus stabil. (dan)