Waspadai Gelombang Tinggi di Laut Selatan Jabar

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com- Kondisi gelombang di Jawa Barat, khususnya wilayah Selatan cukup besar. Ketinggian gelombang dari 3,5-5.0 meter dengan kecepatan angin berkisar 5-25 knot yang dominan bergerak dari Timur-Tenggara

Ketinggian gelombang maksimum perairan Selatan Jawa Barat berkisar antara 3,5-5,0 meter. Gelombang kategori tinggi hingga ketinggian 6,0 meter berpotensi terjadi.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandung, Teguh Rahayu mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan oleh kondisi cuaca yang dinamis pada musim kemarau ini.

Masih ada peluang kecil terjadi bencana meteorologis terutama angin kencang dan puting beliung. Bagi yang sedang dalam perjalanan di jalan raya, apabila terjadi cuaca ekstrim seperti angin kencang, diharap segera menepi dan masuk ke gedung, hindari berlindung di bawah pohon besar pada kondisi demikian, menjauhi tebing jika berada di wilayah yang berbukit,” ujarnya.

Lanjutnya, hal yang perlu diwaspadai oleh masyarakat saat ini adalah tetap tenang dan waspada, berhati-hati ketika beraktifitas di luar rumah dan mengurangi kegiatan di luar apabila tidak penting.

“Mencari informasi resmi kebencanaan dari pihak yang berhubungan langsung seperti BNPB, BMKG, TAGANA, TNI/Polri dan aparat Pemerintahan setempat,” tambahnya.

“Berkaitan dengan Peringatan Dini tinggi gelombang, bagi masyarakat yang berkepentingan ke wilayah Pesisir atau Perairan Selatan Jawa Barat, diharap agar selalu berhati-hati dan memperhatikan rambu-rambu keselamatan yang ada,” sambungnya.

Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer terkini BMKG, pada level pengaruh skala global terhadap Jawa Barat, indeks ENSO menunjukkan kondisi netral (indeks ENSO -0,15), dan sebagian besar institusi memprediksi kondisi netral setidaknya akan berlangsung hingga September 2021 dan menjadi La Nina Lemah pada Oktober hingga Desember 2021.

Indeks Dipole Mode menunjukkan kondisi IOD Netral (-0,14), dan diprediksi akan terus netral hingga
Januari 2022.

“Sedangkan anomali SST menunjukkan kondisi hangat dengan anomali antara – 0,5 oC hingga 1,0 oC. Anomali Positif terjadi di wilayah Laut Jawa,” tuturnya.

Pada level pengaruh regional, MJO terpantau aktif pada fase 3 dan akan memasuki fase dua hingga empat dan fase tidak aktif hingga awal Dasarian III Juli 2021.

Ia menjelaskan, berdasarkan peta prediksi spasial anomali OLR, Jawa Barat termasuk wilayah dengan OLR basah pada akhir Dasarian I Juli 2021 dan akan bergerak ke arah Timur sampai pertengahan Dasarian II Juli 2021.

“Jawa Barat dipengaruh Monsun Australia hingga berpengaruh pada menurunnya aktivitas konvektif dan pembentukan awan di wilayah Jawa Barat pada umumnya. Kondisi dinamika atmosfer lokal wilayah Jawa Barat pada umumnya mulai memasuki kondisi stabil.

Hal ini ditunjukan dengan Lifted Index bernilai -1 hingga -4 dan nilai K Index 35 <= 38. Pantauan nilai kelembapan relatif (RH) masih tinggi dengan rentang antara 45%-92% terutama
pada siang hingga malam hari, dari level permukaan hingga ketinggian 850 mb.

“Hasil analisis dari kondisi atmosferik global hingga lokal diatas berpengaruh pada supresi pertumbuhan awan konvektif di wilayah Jawa Barat pada umumnya,” tutupnya. (kim)