Pedagang Hewan Kurban Merugi

HEWAN KURBAN: Dampak PPKM dirasakan pedagang hewan kurban sapi di Cianjur imbas sejumlah pasar hewan ditutup.(Foto: Istimewa)

RADARCIANJUR.com -Dampak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro Darurat di Kabupaten Cianjur membuat pasar hewan Cianjur ditutup. Hal tersebut sangat berdampak kepada penjual hewan kurban, pasalnya akibat penutupan pasar hewan membuat penjualan hewan kurban menurun.

Pemerintah Kabupaten Cianjur saat ini melarang adanya pasar hewan dadakan yang biasa digelar pada momentum Idul Adha.

Bupati Cianjur Herman Suherman menilai hal tersebut mengganggu keindahan kota dan menimbulkan kerumunan di masa PPKM Darurat Mikro. “Untuk pasar hewan dadakan itu tidak boleh, karena selain mengganggu keindahan kota, itu juga dapat menimbulkan kerumunan,” katanya.

Herman menyampaikan, bahwa sebelumnya sudah menawarkan kepada para pedagang hewan di Cianjur untuk tetap berjualan dengan syarat tidak berkerumun. Namun para pedagang masih tetap berkerumun.

“Kemarin saya tawarkan kepada pedagang silahkan berdagang, tetapi tidak berkerumun. Tapi susah mereka masih saja berkerumun sehingga kita tutup,” tuturnya.

Sementara itu salah seorang penjual hewan kurban, Parno (50) mengatakan, bahwa penjualan hewan kurban mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Tahun ini sangat turun drastis, bahkan sampai 50 persen dibandingkan tahun lalu, ya intinya sangat kesulitan penjualan, apalagi dengan diberlakukannya aturan PPKM darurat dengan ditutupnya pasar hewan,” ujarnya.

Selain itu, menurut Parno adanya kesulitan hewan kurban pada segi pemasaran di masa PPKM akibat ditutupnya seluruh kawasan pasar hewan di Kabupaten Cianjur.

“Sangat sulit, apalagi di tahun ini, pemerintah hanya kasih solusi jual lewat online dan itu tidak efektif, yah intinya sangat kesulitan apalagi penjualannya jenis sapi limousin yang notabenenya mempunyai harga diatas Rp20 jutaan,” jelasnya.

Parno menuturkan, dari jenis sapi limousin yang ia jual, beraneka ragam varian harga, mulai dari yang termurah sampai yang termahal tergantung berat bobotnya.

“Yang paling murah untuk satu ekor sapi limousin yang udah bisa dipakai kurban itu Rp18 juta, kalau yang paling mahal bisa mencapai Rp34 juta,” bebernya.

Parno berharap, pandemi Covid-19 cepat berakhir serta adanya kebijakan yang lebih baik dalam aturan PPKM yang saat ini berlaku. “Ya kami mah hanya petani hanya usaha cari nafkah, apalagi yang dijual hewan kurban punya waktu atau momentum sendiri dan hanya setahun sekali aja, kalau pun harus dibubarkan ya kerumunanya, jangan pedagangnya,” tandasnya.(byu)