Anak Ditinggal Mati Orangtua Pasien Covid 19 Cianjur Butuh Perhatian

KETUA: Harian P2TP2A Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar. (FOTO: RISMA RUSTIKA SARI/ RADAR CIANJUR)

RADARCIANJUR.com- Kasus kematian yang terjadi disebabkan penularan Covid-19 di Kabupaten Cianjur saat ini sudah mencapai angka yang sangat besar.

Tercatat ada 256 kasus masyarakat Kabupaten Cianjur yang meninggal akibat virus asal Wuhan Cina tersebut.

Kematian warga yang memiliki anak sangat berimbas sehingga menyebabkan anak tersebut terpaksa dan harus menerima kenyataan menjadi seorang yatim piatu.

Ketua Harian Pusat Pelayanan Terpadu Pembderdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur Lidya Indayani Umar mengatakan anak-anak yang kehilangan orang, tuanya baik karena Covid-19 atau penyebab lainnya harus mendapatkan perlindungan dari semua pihak termasuk pemerintah.

“Kalau pada prinsipnya anak-anak yang ditinggal orang tuanya meninggal karena Covid-19 atau bukan ada kewajiban negara yang bisa memberikan hak-hak anak-anak tersebut,”katanya.

Linda menjelaskan, dalam Undang-Undang Perlindungan Anak, kewajiban pertama ada di tangan keluarga inti atau orang tua kandung. Jika tidak ada, maka keluarga dari orang tua yang wajib memberikan hak anak.

“Apabila keluarganya tidak sanggup karena permasalahan ekonomi atau jarak itu jadi kewajiban masyarakat dan negara. Ada gak tokoh masyarakat yang mengambil posisi untuk menjadi orang tua asuh, kalau tidak ada bisa merekomendasikan kepada lembaga yang konsen seperti Dinas Sosial agar bisa dipenuhi haknya,”ungkapnya.

Linda berujar, seorang anak mempunyai hak dilindungi dan diberikan pendidikan agar kelak menjadi anak yang berguna.

“Artinya anak yang kehilangan orang tua entah itu tidak ada kabar atau meninggal tetap harus terlindungi. Kedua, kenapa negara maju, karena dalam pandemi ini anak harus tetap belajar di rumah tapi bagaimana tetap kita menciptakan suasana damai agar anak bisa terpantau dan terhindar dari Covid-19 kekerasan dan juga dari hal yang berpengaruh di lingkungan sosialnya,” jelasnya.

Linda mengaku, pihaknya tidak memiliki program tertentu untuk mendampingi anak yang yatim piatu karena Covid-19. Namun, pihaknya memiliki data anak-anak yatim piatu.

“Data yang ada di kita yang bisa dijangkau itu ada sekitar 200 anak yatim piatu itu juga belum terdata di semua wilayah,”tandasnya (byu)