Sudah Siapkan Eko-Eko Berikutnya

RADARCIANJUR.Com Selain bulu tangkis, betapa Indonesia sangat berutang budi kepada angkat besi. Cabang olahraga (cabor) yang sepi perhatian dan tak banyak dilirik sponsor, tapi tiada henti membanggakan negeri di ajang-ajang prestisius.

Di Olimpiade Tokyo 2020 ini, misalnya, angkat besi sudah menyumbang dua medali. Sehari setelah lifter muda Windy Cantika Aisah merebut perunggu di kelas 49 kilogram putri, kemarin (25/7) giliran lifter senior Eko Yuli Wirawan mempersembahkan perak di kelas 61 kilogram putra.

Itu medali Olimpiade keempat bagi Eko. Masing-masing dua perak dan dua perunggu. Dia pun memecahkan rekor atlet pertama Indonesia yang bisa melakukannya.

Dan, Indonesia bisa menambah medali lagi dari cabor ini karena masih menyisakan Rahmat yang tampil Rabu lusa (28/7) di kelas 73 kilogram putra dan Nurul Akmal di

Dengan raihan tersebut, berarti angkat besi sukses mempertahankan tradisi medali sejak Olimpiade 2000 meski belum ada yang emas. Hanya kalah dari bulu tangkis yang rutin menyumbang emas sejak Olimpiade 1992, kecuali pada Olimpiade 2012.

Jadi, sewajarnya kalau angkat besi menjadi salah satu cabor prioritas pemerintah. Melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga, pemerintah menetapkan 14 cabor unggulan yang menjadi grand design dalam meningkatkan prestasi di tingkat internasional. Terutama pada Olimpiade.

Sesmenpora Gatot S. Dewa Broto menuturkan, perhatian khusus tidak ada dan sama dengan cabor lain. ”Soal konsisten (meraih medali), saya kira sama seperti bulu tangkis. Toh bulu tangkis tidak menuntut hal yang sama kan. Bahkan, bulu tangkis sering meraih medali emas (Olimpiade),” ujarnya kepada Jawa Pos.

Angkat besi menjadi satu di antara total 14 cabor yang masuk Grand Design Olahraga Nasional 2021–2045. Selain angkat besi, ada bulu tangkis, panjat tebing, panahan, menembak, wushu, karate, taekwondo, balap sepeda, atletik, renang, dayung, senam artistik, dan pencak silat.

”Nanti mereka dapat special treatment. Baik anggaran maupun tempat khusus untuk latihan,” beber Gatot.

Dalam melakukan pembinaan, PB PABSI selektif. Setiap bulan mereka mengadakan tes angkatan. Jika angkatan lifter dinilai tidak progresif dan jeblok dalam kejuaraan, mereka langsung terdegradasi. Lifter-lifter baru pun siap mengisi posisi tersebut.

Pelatih pelatnas Dirdja Wihardja mengatakan, pembinaan itu secara konsisten dilakukan sejak 2018. ”Kami selalu mengadakan Kejuaraan Satria. Kejuaraan itu diikuti atlet berusia 15–17 tahun. Jadi, dari situ kami mendapat calon-calon atlet yang akan digembleng di pelatnas,” kata Dirdja.

Selain dari kejuaraan-kejuaraan daerah, pihaknya memantau pembinaan di daerah. Hal yang sama terjadi pada kasus Windy Cantika Aisah. Dia baru masuk pelatnas pada Februari 2019 setelah beberapa lifter terdegradasi.

”Dari PPLP (pusat pendidikan dan latihan olahraga pelajar) daerah juga kami pantau. Seperti Windy dari PPLP Bandung. Kemudian, ada Rizky Juniansyah dari PPLP Banten yang sempat dapat gelar di Kejuaraan Dunia Junior 2021,” ujarnya.

Dirja menambahkan, selanjutnya pihaknya terus mencari dan membina Eko-Eko yang lain untuk melanjutkan prestasi tersebut. Maklum, pada Jumat lalu (23/7) Eko sudah genap 32 tahun.

Untuk regenerasi itu, kata Dirdja, PB PABSI rutin mengirim lifter-lifter muda ke ajang internasional. Saat ini pada kelas yang sama, yaitu 61 kg, ada M. Faathir yang sempat mencatat rekor dunia remaja pada 2020.(mg/jpc)