Menelisik Perjuangan Abdurrohman Sang Tukang Pangkas Rambut di Masa Pandemi

Abdurrohman (55) tukang pangkas rambut yang bertahan hidup serta menafkahi keluarganya di masa pandemi Covid-19 dengan membuka jasa pangkas rambut.

RADARCIANJUR.com – Pandemi Covid-19 yang terus menggerogoti tanah air tercinta Indonesia khususnya, sangat berdampak signifikan pada semua sektor, terutama pada sektor ekonomi, yang mana dampaknya sangat dirasakan semua kalangan masyarakat, baik dari kalangan atas terlebih bagi kalangan menengah kebawah. Akan hal itu tak sedikit perusahaan yang merugi bahkan gulung tikar.

Seperti yang dirasakan Abdurrohman sebagai tukang pangkas rambut, dengan situasi pandemi saat ini, ia hanya mengandalkan para pelanggannya untuk datang.

Ia sangat merasakan sekali dampak pandemi Covid-19. Menurutnya, sebelum masa pandemi pendapatan sehari-harinya bisa mencapai Rp300 ribu, namun di kala pandemi saat ini, ia hanya mendapatkan seperempat bahkan kurang dari pendapatan normal biasanya.

Kendati begitu ia selalu bersyukur dan tak pernah mengeluh meski pendapatannya merosot tajam.

“Alhamdulillah saya masih bersyukur meski pendapatan saya menurun drastis selama pandemi saat ini, saya masih bisa mendapatkan pelanggan untuk dipangkas rambutnya, walau hanya mendapatkan beberapa saja,” katanya.

Kendati pandemi sudah berusia dua tahun berjalan, tak menjadi gentar dalam mencari nafkah keluarga bagi bapak yang kini berusia 55 tahun ini.

“Alhamdulillah pandemi sudah hampir dua tahun berjalan saya rasakan, dan tentunya sangat berdampak sekali, namun kita harus tetap semangat khususnya dalam mencari nafkah bagi keluarga tercinta,” ujarnya sambil menghela napas panjang.

Pandemi yang melanda ini tidak pernah menyurutkan semangat bapak yang sudah di karuniai satu orang putra ini, demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Ya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari saya tidak pernah surut semangat dan demi senyuman istri tercinta,” tuturnya.

Bapak yang berdomisili di kampung Sukasari Desa Sindanglaya Kecamatan Cipanas ini, setiap kali hendak menjalani kesehariannya sebagai tukang pangkas rambut di Pasar Cipanas, ia selalu ditemani sang istri ketika menjalani aktifitasnya.

“Alhamdulillah istri saya selalu ada di samping saya memberikan semangat ketika beraktifitas,” tuturnya sambil tersenyum.

“Karena anak saya sudah dewasa dan Alhamdulillah juga sudah kerja jadi istri yang selalu temani saya, mungkin di rumah tidak ada siapa- siapa, jadi ia lebih baik temani saya di pasar, sambil nunggu pelanggan yang hendak di pangkas,” tambahnya.

Herawati 48 tahun istri Abdurohman juga tidak pernah berhenti menyemangati sang suami di kala menurunnya ekonomi selama pandemi Covid-19 yang masih melanda.

Setiap pagi ia siapkan sarapan seadanya agar sang suami selalu sehat dan tidak gampang sakit, apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini.

“Jadi sebelum bapak berangkat saya siapkan sarapan seadanya agar bapak tidak mudah sakit,” katanya.

Selain menyiapkan sarapan untuk sang suami tercinta Herawati juga tidak pernah lupa untuk selalu mengingatkan sang suami ketika bekerja untuk selalu mentaati protokol kesehatan, agar terhindar dari paparan Covid-19.

“Saya selalu ingatkan bapak untuk selalu mentaati protokol kesehatan, seperti selalu memakai masker dan tak lupa untuk mencuci tangan, karena kerja sebagai pemangkas rambut itu selalu berinteraksi langsung bersama pelanggan, jadi jangan sampai kendor terhadap protokol kesehatan,” ujar sang istri.

Abdurohman juga menuturkan kondisi yang paling terasa sangat berat di masa pandemi yaitu ketika penerapan PPKM darurat, menurutnya ketika diberlakukannya PPKM darurat dari tanggal 03 Juli lalu,ndengan dibatasibya aktifitas dan peraturan esensial dan non esensial. Abdurohman sebagai tukang pangkas rambut ini yang berada di jalur non esensial ia dibatasi untuk tidak buka selama PPKM darurat.

Dengan begitu dirinya tidak mendapatkan pemasukan sama sekali, karena pangkas rambutnya tidak bisa buka.

“Jadi selama PPKM darurat diberlakukan saya tidak bisa membuka pangkas rambut, untuk itu saya juga tidak ada pemasukan kalau pangkasnya tutup,”ungkapnya.

Diakuinya, selama pandemi melanda, Abdurohman tetap bersyukur meski tidak mendapat bantuan apapun dari Pemerintah.

“Alhamdulillah saya tak henti-hentinya bersyukur di tengah sulitnya ekonomi selama pandemi meski tidak mendapatkan bantuan apapun dari Pemerintah,” tuturnya sambil tersenyum.

Abdurohmanpun berharap agar pandemi segera berlalu dan aturan PPKM darurat segera di longgarkan sehingga bisa kembali buka pangkas dengan normal meski penghasilannya belum normal seperti biasanya.

“Saya harap pandemi ini segera berlalu dan saya harap aturan PPKM darurat bisa sedikit di longgarkan agar saya bisa kembali buka pangkas dengan normal meski pendapatannya belum normal seperti biasanya sebelum pandemi melanda,” tutupnya.(dm4)