Keterisian Tempat Tidur di Beberapa Rumah Sakit di Cianjur Turun

MEMBAIK: RSUD Cianjur dan beberapa rumah sakit daerah lainnya sedikit bernafas lega dengan penurunan kasus terkonfirmasi. (Foto Hakim Radar Cianjur)

RADARCIANJUR.com- Bed Occupancy Rate (BOR) di Kabupaten Cianjur saat ini mengalami penurunan keterisian, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur, di RSUD Cianjur dengan kapasitas 216 tempat tidur saat ini keterisian hanya 68 persen dan ketersediaan 70 tempat tidur.

RSUD Cimacan memiliki 100 tempat tidur, keterisian 60 persen dan tersisa 40 tempat tidur. RSUD Pagelaran keterisian hanya 16 persen, sehingga masih banyak tempat tidur yang kosong atau belum terisi. Namun, kondisi berbeda terjadi di Rumah Sakit Dr Hafidz (RSDH) yang mencapai 90 persen.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur, dr Irvan Nur Fauzy mengatakan, penurunan tersebut seiring diberlakukannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat.

“Terlihat pasca PPKM darurat terjadi penurunan dari kasus terkonfirmasi hingga keterisian rumah sakit,” ujarnya.

Lanjutnya, saat ini Kabupaten Cianjur berada di bawa rata-rata BOR Jawa Barat yakni 70 persen, dibandingkan sebelum PPKM darurat bisa mencapai 90 persen.

“Saat ini Cianjur di bawah rata-rata Jawa Barat, namun tetap harus diantisipasi dan jangan abai terhadap protokol kesehatan,” imbaunya.

“Untuk pasien isolasi mandiri masih ada, namun menurun seiring berjalannya penurunan kasus dan kasus terkonfirmasi di desa-desa terjadi penurunan sekitar 10 persen,” sambungnya.

Di sisi lain, Plt Direktur Utama RSUD Cianjur, dr Darmawan menambahkan, kondisi keterisian memang terjadi penurunan. Namun terdapat juga kenaikan meskipun tidak signifikan dibanding sebelumnya.

“Iya ada penurunan, tapi naik turun tidak signifikan,” terangnya.

Sementara itu, Plt Dirut RSUD Cimacan, dr Juliana mengungkapkan, penurunan hingga 48-50 persen. Sehingga trennya menurun.

“Iya saat ini trennya menurun, tapi tetap kita antisipasi jika sampai adanya lonjakan dan bahkan tetap memberlakukan lima sif agar tenaga kesehatan memiliki waktu istirahat cukup,” tutupnya. (kim)