Satu Keluarga di Campaka Tinggal Digubuk Nyaris Ambruk

GUBUK: Rumah salah satu keluarga di Kampung Sukamukti, Desa Cimenteng, Kecamatan Campaka.(Foto:Istimewa)

RADARCIANJUR.com-Potret kemiskinan di Kabupaten Cianjur masih banyak terjadi. Seperti salah satu keluarga di Kampung Sukamukti, Desa Cimenteng, Kecamatan Campaka, yang tinggal gubuk reyot di tanah milik salah satu perusahaan setempat.

Lebih mirisnya lagi satu keluarga yang mendiami gubuk itu terkadang hanya mengandalkan asupan makanan dari olahan singkong dan buah pisang. Diketahui rumah gubuk reyot itu milik pasutri Rohman (60) dan Iin (40) memiliki 7 orang anak, ke dua anaknya sudah menikah dan lima lainnya kini tinggal bersama menempati bangunan tersebut.

Rumah pasutri tersebut sangat kecil untuk ukuran satu keluarga dengan lima anak. Dinding menggunakan bilik yang dianyam dari bambu sudah banyak yang bolong dan nampak rapuh serta untuk tiang penyangga menggunakan kayu dan bambu.

Ketika hujan, anak-anaknya terpaksa harus membereskan pakaian dan peralatan sekolah untuk mengantisipasi air yang membasahi pakaian dan peralatan sekolah.

Menurut Iin, dia sudah hampir dua tahun menempati gubuk berukuran kecil itu. Sebelumnya ia memiliki rumah, tetapi rumah itu dijual untuk biaya suaminya bekerja ke luar kota.

Namun setelah suaminya kembali pulang tidak membawa apa-apa. “Kami di rumah ini sudah hampir dua tahun. Kalau hujan bocor, tidur jadi satu di ruangan yang tidak bocor atapnya,” katanya.

Iin menyebutkan, kediamannya tersebut tidak ada penerangan karena keterbatasan biaya listrik. Untuk mensiasati hal tersebut, keluarganya menggunakan lampu solar ketika hari menjelang malam.

“Penerangan pakai lampu solar. Anak-anak belajar kadang di luar kalau siang, menggunakan alas karung bekas. Untuk makan kadang kami makan nasi sama ikan asin, kadang makan sehari sekali,” kata Iin.

Selain itu, Iin mengaku bahwa selama ini belum pernah mendapatkan bantuan seperti bantuan PKH dan bantuan dari pemerintah. “Bantuan saya belum pernah dapat bantuan, sembako belum pernah hanya dari desa dan tetangga,” terangnya.

Iin menjelaskan, sehari-hari sang suami Rohman hanya bekerja serabutan dengan pendapatan Rp20 ribu, dan tambahan dari penghasilan salah satu anaknya.

“Si balap kerja serabutan, si bapak sehari paling Rp10 sampai Rp20 ribu per hari. Anak-anak saya sekarang masih sekolah SD, dan yang udah nikah pun hanya sampai SD, karena kalau melanjutkan ke SMP terbentur biaya,” tuturnya.

Dengan kondisi seperti itu, Iin pun mengaku sedih dan sering menangis ketika melihat anak-anaknya yang masih kecil. “Kadang-kadang saya sedih, nangis melihat kondisi seperti ini,” ungkapnya.

Ditemui terpisah, Kades Desa Cimenteng, A Haris Suryadi mengatakan, sebelumnya pemerintah desa sudah melakukan pendataan untuk mengajukan pembangunan rumah keluarga Rohman.

“Seperti rutilahu dan bedah rumah langsung diajukan ke Dinas Sosial. Dan pemerintah kecamatan juga sudah melaksanakan itu, kebetulan dia itu dapat bantuan dari desa yaitu BLT DD,” ungkap Haris.

Haris menuturkan, keluarga tersebut sudah tinggal sekitar satu tahunan di tanah milik perusahaan sekitar. “Rumah itu juga dulunya hasil gotong royong masyarakat secara swadaya. Dia mempunyai sembilan anak, kesehariannya dia sebagai buruh serabutan, untuk itu saya mohon bantuannya untuk pengajuan supaya warga desa kami memiliki rumah yang tidak layak,” tandasnya.(byu)