Pemerintah Harus Perhatikan Lulusan SLB

Sekretaris Komisi 1 DPRD Provinsi Jawa barat Fraksi PKS, Sadar Muslihat saat melakukan silaturahmi ke SLB Purnama Cipanas. Foto: Dadan Suherman/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Pemerintah provinsi dan daerah di Jawa barat diminta memberikan perhatian serius kepada anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam mengakses pendidikan. Terlebih bagi lulusan di sekolah luar biasa’ (SLB) saat akan menuju jenjang pekerjaan.

“Saya berharap, pemerintah provinsi maupun daerah di Jabar bisa membuat regulasi terkait dengan memberi ruang kepada siswa atau lulusan disabilitas untuk mendapat peluang bekerja di dunia kerja layaknya orang secara normal,” ujar Sekretaris Komisi 1 DPRD Provinsi Jawa barat Fraksi PKS, Sadar Muslihat, saat ditemui usai melakukan silaturahmi di SLB Purnama Cipanas, Rabu (4/8/2021).

Lebih lanjut, sejumlah program penanganan sosial terhadap anak berkebutuhan khusus itu, justru dinilai lebih banyak digerakan oleh masyarakat ketimbang pemerintah.

Bahkan, karena banyak digalakkan swasta atau yayasan, mereka cenderung masih memiliki keterbatasan anggaran dalam mengembangkan dan meningkatkan keterampilan para siswa SLB tersebut.

“Pada saat saya melakukan kunjungan ke SLB Purnama Cipanas ini, justru mereka itu menyampaikan keluhannya terkait dengan masih terbatasnya ruangan-ruangan khusus keterampilan bagi para siswa SLB. Makanya saya nanti akan dorong dan sampaikan ke pemerintah, supaya ada perhatian,” kata Sadar.

Tak hanya itu, ia juga menyerap aspirasi terkait dengan kesejahteraan tenaga pengajar di SLB ini. Sehingga memang harus didorong pula agar para guru di SLB ini dapat terus memberikan pengajarannya ke siswa ABK ini.

“Para guru di sini bukan hanya mengajar secara teori biasa, tetapi juga melatih keterampilan siswa untuk tetap bersekolah dengan maksimal. Makanya harus kita dorong itu,” ujarnya.

Ketua Yayasan Purnama Cipanas, Mayor (Purn) Kudori mengatakan, pihaknya sangat berharap bahwa pemerintah provinsi dan daerah bisa lebih memperhatikan sekolah luar biasa ini secara maksimal.

“Kami di sini butuh perhatian dari pemerintah, baik pusat, provinsi, khususnya daerah. Karena di sini bukan hanya mengajar seperti guru pada umumnya, namun memberikan keterampilan khusus bagi mereka anak-anak istimewa ini,” kata Kudori.

Bahkan menurutnya, masih banyak kekurangan-kekurangan di sekolah luar biasa ini kaitan dengan fasilitas sekolah untuk para siswanya. Seperti kurangnya ruangan belajar, ruang keterampilan, dan masih dibutuhkannya tenaga pengajar yang memiliki skill khusus untuk mengajar siswa SLB.

“Kami harapkan sekolah luar biasa ini terus berjalan dan maju sehingga bisa menghasilkan para peserta didik atau siswa lulusan SLB disini nantinya tidak tergantung orang tua bahkan orang lain, alias bisa mandiri,” pungkasnya. (dan)