Tahun 2021, Tren Kasus DBD Turun Drastis

RADARCIANJUR.com- Kasus Demam berdarah dengue (DBD) tahun 2021 di Kabupaten Cianjur saat ini mengalami penurunan

Sebelumnya ditahun 2020, angka kematian akibat kasus DBD mencapai 7 kasus, bahkan untuk kasus yang di diagnosa DBD mencapai ratusan.

Hal tersebut tentunya menjadi kabar baik bagi Kabupaten Cianjur, untuk Tahun 2021 kasusnya menurun drastis, angka kematian akibat kasus DBD hanya mencapai 3 kasus, sedangkan untuk kasus terdiagnosa DBD hanya puluhan kasus.

“Alhamdulillah, untuk kasus DBD di Kabupaten Cianjur, tahun kni paling sedikit kasusnya dibandingkan dengan tahun 2020, turunnya jauh sekali sampai beberapa ratus persen,” ujar Kepala Bidang pencegahan dan pengendalian penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, dr. Yusman Faisal.

Ia mengatakan, antisipasi kasus DBD di Kabupaten Cianjur gencar di laksanakan, karena merupakan kasus infeksi yang bersumber dari lingkungan sehingga harus dilakukan gerakan bersama dengan masyarakat untuk membersihkan lingkungan masing-masing.

“Antisipasinya kita harus bersama warga membersihkan lingkungan, selain itu melakukan pemberantasan sarang-sarang nyamuk, ini yang paling penting,”tuturnya.

Yusman menjelaskan, hal yag penting lainnya yakni membersihkan area yang tertutup dan tergenang oleh air sehingga tidak menjadi sarang nyamuk.

“Operasi jumsih juga di masing-masing Wilayah harus lebih di giatkan kembali,”terangnya.

Yusman menyebutkan, untuk Tahun 2021 ini angka kasus kematian akibat DBD ini menurun menjadi 3 kasus.

“Tahun lalu sampai 7 orang yang meninggal, penurunannya lebih 50 persen, dengan Tahun ini,” jelas Yusman.

Menurut Yusman, data yang di ambil merupakan data yang ada di rumah sakit, dengan diagnosa hasil dari laboratorium yang berupa anti gen khusus untuk DBD.

“Sampai dengan saat ini, kasus yang terdiagnosa DBD hanya mencapai puluhan, dan data itu betul-betul data yang sudah terdiagnosa di rumah sakit, bukan di Puskesmas,”paparnya.

Menurut Yusman, data kasus DBD yang ada di Puskesmas itu tidak pasti, karena diagnosanya hanya di ukur dari gejala yang mirip dengan DBD.

“Kan kalau Puskesmas itu masih gejala-gejala yang mirip dengan DBD lalu di diagnosa disitu DBD, namun hasilnya kan itu belum pasti DBD karena belum di uji di laboratorium, apalagi kalau di rawat di rumah lebih kepada Chikungunya,”tukasnya. (byu)