Pasokan Sayur ke Ibukota Alami Penurunan Selama PPKM

Persiapan Pengiriman: Para petani dan tengkulak sayur di stasiun sayur mayur wilayah Pacet tengah mempersiapkan pengiriman. Foto: Dadan Suherman/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Adanya penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejak awal Juli lalu hingga saat ini, pasokan sayur mayur dari Kabupaten Cianjur melalui Sub Terminal Agribisnis (STA) Cigombong, Kecamatan Pacet, Cianjur mengalami penurunan.

Kepala Sub Terminal Agribisnis (STA) Cigombong, Wawan Kuswa menuturkan berdasarkan catatan data yang ada di STA Cigombong, sejak Pembelakuan PPKM terjadi penurunan volume distribusi sayuran.

Bahkan, data harian STA mencatat, sebelum pandemi Covid-19, sebanyak 40 ton sayuran berbagai jenis tercatat dalam aktivitas distribusi di STA. Namun sejak Juni 2020 hingga sekarang, volume penjualan harian hanya berkisar antara 10-12 ton per hari atau 70% berkurang dari keadaan sebelum pandemi.

“Sebenarnya ini terjadi sejak Pandemi bulan Maret 2020 lalu, dan sudah mulai terjadi penurunan distribusi yang cukup anjlok,” kata Wawan kepada radarcianjur.com, Senin (9/8/2021).

Sementara untuk distribusi sayuran ke Hotel, Restoran dan Cafe (Horeca), kata Wawan, sudah tidak ada pelaku usaha yang bertahan.

“Perkembangan pasokan sayur mayur mengalami penurunan sejak dari Pandemi Covid-19 tahun lalu yang diperparah adanya PPKM kemarin hingga kini, dan ini terjadi untuk pasokan pasar-pasar di Jabodetabek,” tuturnya.

Penurunan tersebut menurutnya, disebabkan juga karena pemberlakuan pengetatan kendaraan dari Cianjur ke beberapa titik di Ibukota.

“Permintaan di sana pun tidak begitu tinggi karena memang daya beli masyarakat yang menurun saat aturan harus di rumah. Makanya otomatis jadi berpengaruh terhadap pasokan kita di sini,” kata dia.

Hal senada disampaikan Herman (45), seorang tengkulak sayur di Cipanas. Ia mengaku cukup mengalami kendala pengantaran sayur mayur dari Cipanas menuju Bogor dan Jakarta. Sebab, sebulan lebih ini, ia dan rekan seprofesinya merasakan kebingungan atas jalur yang tengah dilakukan penyekatan tersebut.

“Satu sisi, kami kan perlu beroperasi untuk memasarkan sayur mayur ke luar Cianjur. Tetapi di sisi lain, memang pencegahan penyebaran virus Covid-19 yang dilakukan pemerintah begitu ketat. Makanya pasokan pun jadi berpengaruh,” katanya.

Bahkan ia mengatakan, beberapa pekan kemarin terpaksa libur dulu untuk tidak memasok sayur ke luar Cianjur. Sebab, jalur dari Cipanas ke Bogor dan Jakarta terjadi pengetatan di saat PPKM.

“Beberapa hari kemarin saat pengetatan kendaraan, saya tak pergi ke Jakarta. Karena memang harus memenuhi syarat yang ektra ketat,” katanya.

Serupa yang dikatakan Edih. Pria yang telah puluhan tahun menjalani bisnis sayur mayur ini mengaku cukup kebingungan dengan adanya situasi pandemi Covid-19 hingga sekarang. Bahkan ia mengaku, harga sejumlah sayur pun ada yang mengalami anjlok. Meskipun beberapa juga yang tengah naik.

“Kalau dari harga sayur sekarang ini ada yang naik ada juga yang turun. Tetapi permasalahannya jalur ke luar Cianjur pun dilakukan penyekatan,” ujarnya.

Ia hanya berharap, keadaan ini cepat pulih kembali. Ekonomi para pelaku usaha baik sektor apapun tak ada lagi yang mengeluhkan. Terutama jalur ke semua wilayah bisa normal lagi.

“Hanya bisa berharap saja keadaan ini semua bisa segera normal. Walaupun kini beberapa pasokan sayur sudah bisa dikirim, tetapi dengan aturan di masing-masing wilayah masih ditegakkan,” tandasnya. (dan)