Tokyo 2020 Usai, Ini 5 Hal yang Perlu Diketahui dari Paris 2024

RADARCIANJUR.Com Olimpiade Tokyo 2020 resmi berakhir dengan upacara penutupan Minggu (8/8) malam kemarin. Sesi penyerahan bendera Olimpiade dari Gubernur Tokyo, Yuriko Koike, kepada Walikota Paris, Anne Hidalgo juga menjadi tanda bahwa Paris sudah siap menjadi tuan rumah olimpiade berikutnya di 2024.

Sementara Olimpiade Paris 2024 masih akan berlangsung 3 tahun lagi, tidak ada salahnya untuk bersemangat menyambut Olimpiade ke-33 ini. Berikut 5 hal yang patut diketahui, dikutip dari Antara:

 

1. Seratus tahun Olimpiade Paris 1924

Pada 2024, Paris akan menjadi kota kedua yang menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas tiga kali setelah London, yang menggelar Olimpiade 1908, 1984 dan 2012.

Paris pertama kali menjadi tuan rumah Olimpiade pada 1900, empat tahun setelah acara olahraga multievent itu digelar kembali di Athena setelah dilarang oleh Kaisar Romawi Theodosius I sekitar 1.500 tahun sebelumnya.

Tidak ada upacara pembukaan atau penutupan yang diadakan di Olimpiade 1900, yang menampilkan kompetitor perempuan untuk pertama kalinya dalam sejarah Olimpiade, termasuk beberapa cabang olahraga baru renang bawah air dan kriket.

Paris menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas lagi pada 1924, menjadi kota pertama yang menjadi tuan rumah Olimpiade dua kali.

Sementara upacara pembukaan Olimpiade 1924 diadakan pada 5 Juli, beberapa kompetisi dimulai pada 4 Mei, dengan upacara penutupan diadakan pada 27 Juli.

Seratus tahun kemudian, pada 26 Juli 2024, Paris akan secara resmi menyambut dunia ke Olimpiade untuk ketiga kalinya.

Namun, Olimpiade 2024 akan menjadi yang keenam diadakan di Prancis — selain tiga Olimpiade Musim Panas yang disebutkan di atas, Prancis juga telah menyelenggarakan Olimpiade Musim Dingin pada tiga kesempatan, yaitu Chamonix 1924, Grenoble 1968 dan Albertville 1992.

 

2. Olahraga debut

Olimpiade Paris 2024 dijadwalkan menampilkan 32 cabang olahraga yang mencakup 306 event, di antara olahraga tersebut adalah breaking, yang membuat debut Olimpiade.

Breaking adalah bentuk kompetitif dari breakdance yang mencakup gerak kaki dan gerakan atletik seperti punggung atau kepala yang berputar.

Atlet (dikenal sebagai b-boys dan b-girls) dinilai berdasarkan sejumlah kriteria selama penampilan mereka, termasuk keterampilan teknis, kreativitas, gaya, kecepatan, kekuatan, ritme dan kelincahan.

Breaking menjadi event yang sangat populer di Olimpiade Remaja Musim Panas 2018 di Buenos Aires, dan pada Desember 2020 olahraga tersebut secara resmi ditambahkan ke cabang olahraga baru untuk Paris 2024 bersama dengan selancar ombak, skateboard dan panjat tebing yang melakukan debut Olimpiade mereka di Tokyo 2020.

Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC), Thomas Bach, mengatakan bahwa penambahan cabang olahraga akan membuat Olimpiade lebih seimbang secara gender, lebih muda dan lebih urban.

“Kami memiliki prioritas yang jelas, dan ini untuk memperkenalkan olahraga yang sangat populer di kalangan generasi muda. Dan juga untuk mempertimbangkan urbanisasi olahraga,” kata Bach.

3. Tahiti jadi lokasi selancar ombak Olimpiade

Tahiti — pulau terbesar di Polinesia Prancis -— akan menjadi tuan rumah kompetisi selancar ombak di Olimpiade Paris 2024.

Tahiti dipilih sebagai sebagai lokasi bertanding dari empat lokasi potensial di daratan Prancis (Biarritz, Lacanau, Les Landes dan La Torche).

Nantinya, ketika selancar ombak dimulai pada 2024 di 15.700 kilometer dari Paris, kompetisi tersebut akan memecahkan rekor perebutan medali Olimpiade terjauh yang diadakan di luar kota tuan rumah.

Pada Olimpiade Melbourne 1956, event berkuda dipindahkan dari kota Australia karena undang-undang karantina dan sebagai gantinya diadakan lima bulan sebelumnya di Stockholm, Swedia.

Asosiasi Selancar Internasional (ISA) mendukung keputusan tersebut. Presiden ISA Fernando Aguerre mengatakan bahwa pilihan Tahiti sebagai tempat Olimpiade “adalah kesaksian semangat kreativitas dan inovasi Paris 2024.”

 

4. Lambang Olimpiade dan Paralimpiade Paris 2024

Ketika lambang Paris 2024 diresmikan pada 2019, hal itu menandai momen ikonik dalam sejarah Olimpiade dan Paralimpiade. Untuk pertama kalinya, emblem yang sama akan digunakan untuk kedua kompetisi.

Digambarkan sebagai “wajah” Olimpiade, lambang tersebut merupakan kesatuan dari tiga simbol ikonik: medali emas, api, dan Marianne — simbol revolusi dan figur kebebasan yang disayangi rakyat Prancis.

“Pertama, logo ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, kami ingin sama untuk Olimpiade dan Paralimpiade,” kata pemimpin Olimpiade Paris 2024 dan juara kano Olimpiade tiga kali, Tony Estanguet.

“Ini bersejarah, untuk mengatakan bahwa kami memiliki ambisi yang sama untuk dua acara ini, untuk menempatkan atlet Olimpiade dan Paralimpiade ini pada level yang sama dan untuk merayakan Olimpiade dengan cara yang sama, apakah itu dalam hal perayaan atau warisan.”

 

5. Maraton untuk semua orang

Untuk pertama kalinya pada Olimpiade, partisipasi maraton secara massal yang terbuka untuk atlet amatir akan berlangsung pada hari yang sama dengan acara untuk atlet profesional.

Maraton “publik” tidak akan dimulai pada waktu yang sama dengan kompetisi elit, namun para atlet akan berlari di jalur yang sama dan dalam kondisi yang sama dengan acara Olimpiade, menurut Estanguet.

“Dengan acara ini (maraton partisipasi massal), Paris 2024 mengundang orang-orang di seluruh Prancis untuk terinspirasi oleh pola pikir atletik dan nilai-nilai Olimpiade, dan mengintegrasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari mereka,” dalam pernyataan di situs web Paris 2024.

“Untuk memungkinkan sebanyak mungkin orang berbagi pengalaman yang luar biasa ini, beberapa format yang berbeda akan ditawarkan sehingga setiap orang, apakah mereka atlet berpengalaman atau pemula, berbadan sehat atau disabilitas, muda atau tidak muda, dapat nikmati momen yang benar-benar luar biasa ini.”(mg/jpc)