Pelajar Cianjur yang Lakukan Praktek Kerja Rawan Pelecehan, Peran Sekolah Harus Lebih Selektif

KETUA: Harian P2TP2A Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar. (FOTO: RISMA RUSTIKA SARI/ RADAR CIANJUR)

RADARCIANJUR.com – Siswa- siswi yang melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) untuk menunjang tugas yang diberikan sekolahnya rawan menjadi korban pelecehan seksual ditempatnya melakukan praktek kerja.

Hal tersebut dibenarkan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur mengatakan, bahwa anak usia sekolah dan siswa yang tengah melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) sangat rawan menjadi korban tindakan pelecehan seksual.

“Memang usia-usia remaja sekolah apalagi yang sedang melakukan praktek kerja lapangan sangat rawan menjadi korban pelecehan dari pihak-pihak yang terlibat ditempatnya di tempat PKL siswa atau anak tersebut,”kata ketua Harian P2TP2A Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar.

Lidya menuturkan, harus ada peran pihak sekolah agar lebih selektif dalam menentukan tempat para siswanya melaksanakan PKL. Sehingga para siswa bisa terhindar dari perilaku pelecehan maupun kekerasan seksual.

“Sekolah harus selektif memilih lokasi PKL dan ketat mengawasi para siswanya. Jangan sampai niatnya belajar, malah mendapatkan perilaku tidak baik,” ujarnya.

Selain itu menurutnya, bagi para siswa yang sedang melaksanakan PKL harus menolak segala bentuk aturan, tugas, dan syarat yang menyimpang dari etika.

“Harus berani menolak segala hal yang menyalahi aturan. Jika terjadi penyimpangan, maka jangan takut untuk segera melapor pada sekolah, polisi, dan lembaga perlindungan anak,”ungkapnya.

Beberapa bentuk pelecehan yang rawan diterima para siswa yang sedang melakukan praktek kerja lapangan diantaranya :

“Pelecehan fisik termasuk sentuhan yang tidak diinginkan mengarah ke perbuatan seksual seperti mencium, menepuk, mencubit, melirik atau menatap penuh nafsu, Pelecehan lisan, pelecehan isyarat termasuk bahasa tubuh dan atau gerakan tubuh bernada seksual, Pelecehan tertulis atau gambar termasuk menampilkan bahan pornografi, gambar dan pelecehan psikologis/emosional terdiri atas permintaan-permintaan dan ajakan-ajakan yang terus-menerus dan tidak diinginkan,”jelasnya.

Lidya menjelaskan, kekerasan dan pelecehan seksual, akan memberikan dampak secara psikis pada korbannya.

“Korban pelecehan seksual biasanya akan mengalami trauma, bukan hanya secara fisik namun juga secara psikis,”tandasnya. (byu)