Demokrat: Pemerintah Tak Mampu Kendalikan Covid-19

RADARCIANJUR.Com  Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Syarief Hasan, menyesalkan langkah pemerintah yang mengeluarkan indikator kematian dalam penilaian PPKM. Pasalnya, indikator kematian akibat Covid-19 harusnya menjadi salah satu landasan dalam menentukan level dan implementasi PPKM di berbagai daerah.

Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan pada Senin, (9/8) menyebut telah mengeluarkan indikator kematian dalam menilai level PPKM di berbagai daerah. Alasan pemerintah, indikator kematian dianggap menimbulkan distorsi dalam penilaian level PPKM karena banyak input data yang tidak update dari berbagai daerah.

Syarief Hasan menilai, harusnya pemerintah memperbaiki kualitas data, bukan menghilangkan indikator kematian.

“Jika masalahnya adalah data kematian yang tidak update, maka seharusnya kualitas datanya yang ditingkatkan, bukan data kematiannya yang tidak digunakan sebagai indikator dalam menentukan level dari PPKM,” ujar Syarief Hasan kepada wartawan, Jumat (13/8).

Wakil Ketua MPR ini menyebut, angka kematian adalah indikator yang mesti ada dalam penilaian pembatasan.

“Dari angka kematian, kita dapat mengetahui seberapa besar dampak dari penyebaran Covid-19 di daerah-daerah. Sehingga, kita bisa mengambil sikap untuk melakukan pembatasan-pembatasan sesuai dengan perkembangan angka kematian dan angka positif harian,” katanya.

Syarief Hasan menilai, tidak hanya indikator kematian, indikator jumlah orang yang ditesting juga perlu dijadikan variabel dalam menentukan pembatasan.

“Melalui jumlah orang yang ditesting, kita dapat mengetahui positivity rate di setiap daerah. Oleh karena itu, jumlah kematian dan jumlah orang yang ditesting harusnya dijadikan sebagai variabel dalam menentukan level PPKM,” ungkapnya.

Syarief Hasan juga menilai, langkah pemerintah menghilangkan indikator kematian dalam penilaian PPKM menunjukkan ketidakmampuan mampuannya.

“Langkah ini menunjukkan pemerintah tidak mampu mengendalikan Covid-19, kurang mampu membangun komunikasi dengan daerah, dan tidak memiliki sistim database satu pintu terkait data Covid-19 di daerah, sehingga data kematian tidak update,” tuturnya.

Politikus senior Partai Demokrat ini juga mendesak pemerintah untuk tidak mengurangi jumlah orang yang ditesting. Sebab jumlah testing banyak semakin mengetahui orang yang terpapar Covid-19, sehingga bisa melakukan antisipasi.

“Kemarin, jumlah orang yang ditesting berada di bawah 100 ribu. Padahal, kita perlu memperbanyak testing untuk bisa memutus laju penyebaran dan melokalisir Covid-19, sehingga tidak terus menerus menyebar dari satu wilayah ke wilayah lainnya,” pungkasnya.(mg/jpc)