Jangan Asal Cetak Kartu Vaksin

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com- Pembuatan kartu vaksinasi saat ini menjadi tren di kalangan masyarakat. Niat ingin praktis dan efisien, justru malah dinilai berbahaya karena rawan disalahgunakan. Pasalnya, pada link atau tautan yang dikirimkan sudah berbentuk digital dan bisa Sengaja disimpan pada ponsel.

Praktisi IT Cianjur, Rysa Syahrial mengungkapkan, hal tersebut berbahaya terhadap pencurian data melalui QR code yang dapat disalahgunakan. “Karena kartu vaksin kan ada QR code yang dikeluarkan berdasarkan data user yang sudah melakukan vaksin. Tapi sampai saat ini sih saya belum menemukan celahnya, tapi jika didalami pasti ada. Karena ini data digital,” ujarnya.

Mengenai indikasi phising, dirinya belum bisa memastikan hal tersebut bisa terjadi. Hanya saja, yang paling berbahaya data NIK. “Saya tidak yakin sih kalau pishing. Yang sudah jelas sih dengan dipegangnya QR code kita ke pihak ketiga, ya bocor juga NIK, nama kita. Bisa saja membuat KTP palsu mungkin. Sampai saat ini memang belum ada kasus serius,” jelasnya.

Dirinya pun mengimbau agar masyarakat tidak sembarangan melakukan pencetakan kartu vaksin. Berbeda kasus saat masyarakat tidak memiliki ponsel. “Kenapa harus repot bawa kartu cetaknya, jika kita kemana-mana bawa ponsel. Kalaupun ada orang yang tidak memiliki ponsel untuk simpan data, ya itu kondisi berbeda,” tutupnya.

Namun dengan tren tersebut, membuat usaha percetakan mendapatkan angin segar yang tidak diduga-duga. Seperti pengelola percetakan Aira Advertising Cianjur, R Andry Zaini yang saat ini kebanjiran order untuk mencetak kartu vaksinasi.

Dalam seminggu, dirinya bisa mencetak kartu hingga 50 orang dari berbagai lapisan masyarakat. Bahkan, ada dari beberapa perusahaan yang melakukan kolektif. “Sehari bisa sampai 20-an. Kalau seminggu kurang lebih 50-an orang. Ya sedikitnya cukup menguntungkan,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Namun, lanjutnya, dengan ramainya pencetakan kartu tersebut ternyata tidak sedikit beberapa kalangan membuka jasa percetakan musiman. Sehingga order yang diterimanya tidak terlalu banyak. “Kalau ordernya sih naik turun, karena itu dia, ada beberapa orang yang aji mumpung memanfaatkan momen ini untuk usaha musiman. Sebetulnya cukup riskan bagi pemilik kartu, karena kalau di kita, itu tidak menyimpan, beres cetak langsung hapus file,” paparnya.

Pencetakan kartu vaksin memang tidak mahal, masyarakat cukup mengeluarkan kocek sebesar Rp15 ribu sudah bisa menerima. Namun, siapa sangka, hal tersebut berbahaya terhadap pencurian data yang ada dalam kartu vaksin.(kim)