Perlu Observasi Lebih Dalam Kasus KIPI Bojongpicung

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, dr Irvan Nur Fauzi ditemui disela-sela mendampingi Gubernur Jabar Ridwan Kamil. Foto : Bayu Nurmuslim/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com- Ahmad Solihin (37) warga Bojongpicung yang diduga mengalami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) setelah melakukan vaksinasi jenis Sinovac langsung menjalani tindakan medis di RSUD Sayang.

Namun, kasus tersebut tidak bisa dikatakan KIPI, pasalnya perlu observasi dan penelitian medis terkait hal tersebut. Seperti yang diungkapkan Plt Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Cianjur, dr Irvan Nur Fauzy.

“Pasien sedang dilakukan penyuntikan epidemiologi. Kita memfasilitasi paisen untuk penanganan dan mengkaji penyebabnya apa? Karena, jika dilihat dari gejala yang dialami tidak ada literaturnya,” ujarnya.

Irvan mengungkapkan, saat ini pasien dalam kondisi baik dan disabilitas yang dialaminya pun sudah mengalami perkembangan yang signifikan.

“Secara keseluruhan kondisinya baik, disabilitas pada tangan dan kakinya pun sudah ada perkembangan yang baik. Semoga saja dapat kembali sehat seperti sebelumnya,” paparnya.

Lanjutnya, untuk kasus Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) sepanjang pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Kabupaten Cianjur jumlah relatif kecil.

“Mungkin hanya puluhan kasus, dan tidak ada yang memerlukan penanganan lebih lanjut,” jelasnya.

Sebelumnya, Ahmad Solihin (37) warga Kampung Citapen Rt 02 Rw04, Desa Sukaratu Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur alami lumpuh dan mengalami benjolan di bagian bawah ketiaknya diduga setelah menjalani vaksinasi Covid-19.

Kejadian berawal saat ayah dua anak yang berprofesi sebagai kuli panggul di salah satu pasar di Cianjur itu menjalani vaksinasi kedua jenis Sinovac, yang digelar fasilitas kesehatan setempat, Kamis (8/7) lalu.

Usai menjalani vaksin, Ahmad langsung mengeluhkan pusing dan mual serta mengalami keluhan alergi, seperti gatal pada sekujur tubuh hingga muncul benjolan.

Keesokan harinya, Ahmad bersama istrinya langsung berobat untuk mendapatkan penanganan medis di puskesmas. Bukannya sembuh, justru kondisi Ahmad lebih memprihatinkan.

Tangan dan kakinya tak bisa digerakkan dan pihak puskesmas langsung merujuknya ke RSUD Sayang, Cianjur untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.

“Sempat dirawat di RSUD Sayang selama lima hari, tapi kondisi tak kunjung membaik dan hingga kini tangan dan kaki saya tak bisa digerakkan sama sekali. Ditambah, muncul benjolan di bagian bawah ketiak,” tutur Ahmad.

Ahmad memastikan kondisi kesehatannya saat akan menjalani vaksinasi dalam keadaan baik dan tidak ada keluhan apa pun.

“Tiba-tiba saja, usai vaksinasi langsung alami lumpuh seperti ini. Padahal, saat akan vaksin kondisi saya baik-baik saja, tak ada keluhan apa pun,” tutupnya. (kim)