Jenis Vaksin Memiliki Efikasi Berbeda. Jubir Satgas Covid-19 Cianjur Paparkan Penjelasannya

RADARCIANJUR.com- Kabupaten Cianjur memiliki beberapa vaksin yakni Sinovac, Astrazeneca, Pfizer dan Moderna. Setiap vaksin memiliki efikasi berbeda atau tingkat kemanjuran vaksin dalam melawan suatu penyakit pada orang yang sudah divaksinasi saat tahap uji klinis.

Efek vaksin jenis Moderna berbeda dengan vaksin lainnya. Pasalnya, vaksin Moderna memiliki efikasi 90 persen terhadap kasus Covid-19 dan lebih dari 95 persen terhadap kasus yang parah, dengan sekitar 6 bulan tindak lanjut rata-rata setelah dosis kedua. Untuk Pfizer 95 persen, dari data fase tiga awal yang dilaporkan pada Desember 2020.

Vaksin Astrazeneca efikasi 70,4 persen dalam mencegah Covid-19. Dua suntikan vaksin AstraZeneca, 67 persen efektif terhadap varian Delta, naik dari 60 persen dari yang dilaporkan semula, dan 74,5 persen efektif terhadap varian Alpha, dibandingkan dengan perkiraan awal efektivitas 66 persen.

Untuk vaksin Sinovac, data dari BPOM menunjukkan nilai efikasi vaksin Sinovac di Indonesia yang dihasilkan dari tahapan klinis sebesar 65,3 persen. Berbeda dengan nilai efikasi vaksin yang sama di Turki 91,25 persen dan di Brazil 78 persen.

Jubir Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Cianjur, dr Yusman Faisal mengatakan, vaksin jenis Moderna yang saat ini akan digunakan untuk masyarakat dan booster kepada tenaga kesehatan (nakes) memiliki kadar sama 0,5 mililiter.

“Moderna karena efikasi tinggi, sehingga memiliki efek samping tinggi juga dan ini paling tinggi dibanding jenis vaksin lain,” ujarnya.

Lanjutnya, penerima vaksin remaja hingga lanjut usia efikasinya tetap tidak naik turun dengan efek samping seperti demam, sakit di tempat suntikan dan mual serta muntah.

“Secara faktual ini memang terjadi setiap yang disuntik terdapat keluhan namun bukan KIPI,” paparnya.

Sehingga baik booster ataupun bukan dalam hal ini masyarakat yang divaksin memang terdapat efek samping yang sama. (kim)