Awas, Lagi Musim Diare

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Selain Covid-19, saat ini sebagian masyarakat tengah dilanda penyakit diare alias sakit perut buang-buang air besar. Nyatanya, penyakit yang bersumber dari virus Salmonella atau Escherichia atau dikenal dengan E coli.

Penyakit diare dapat menyerang sistem pencernaan yakni usus sehingga menimbulkan gejala sakit perut yang berlangsung lama, bahkan yang terparah bisa menyebabkan kematian.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Cianjur, dr Yusman Faisal mengatakan, penyakit diare disebabkan faktor lingkungan, yang berkaitan erat dengan kebersihan.
“Diare ini akan berkembang biak di satu lingkungan sehingga infeksi dan menyebar dari orang ke orang,” katanya.

Selain itu sumber penularan diare adalah ketersediaan fasilitas mandi cuci kakus (MCK) atau toilet yang masih belum memadai dimiliki masyarakat. “Sumbernya ada orang sakit kemudian diare. Kemudian tidak mempunyai jamban tersendiri atau kebersihan individunya kurang. Maka di satu rumah itu akan terkena,” ujarnya.

Kemudian, diare juga dapat disebabkan dari konsumsi makanan dan minuman masyarakat yang kebersihannya tidak terjaga dengan baik. “Makanan apapun yang kebersihannya kurang baik. Bisa juga cara memasaknya yang kurang bisa menyebabkan kuman yang bernama Escherichia (E. coli) dapat berkembang biak di dalam usus,” ungkapnya.

Lanjut Yusman, menu makanan berjenis pedas juga dapat menjadi penyebab penyakit diare. “Makanan pedas juga dapat menjadi penyebab diare, namun bukan dari penyakit tetapi akibat dari usus pada saluran pencernaan orang tersebut tidak kuat untuk menampung makanan yang sifatnya pedas,” ungkapnya.

Penyebaran penyakit diare juga dapat melalui kontak erat dan peralatan yang digunakan masyarakat. “Misalkan si orang tersebut sehabis buang air tidak bersih kemudian memegang gelas dan disentuh oleh orang lain. Itu pun dapat menjadi penyebab penularan diare,” terangnya.

dr Yusman menjelaskan, beberapa kategori masyarakat yang rentan tertular diare adalah balita dan anak usia pra sekolah dengan kisaran umur 12 tahun. “Karena yang sangat dikhawatirkan adalah dampak diare mengalami dehidrasi sedangkan anak 90 persen pencernaannya adalah cairan. Otomatis ketika terjadi diare banyak keluar cairan elektrolit (cairan yang berada dalam tubuh), bahkan bisa menyebabkan kematian,” tuturnya.

Untuk menanggulangi penyakit diare, Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur berkoordinasi dengan petugas puskesmas melakukan sosialisasi apabila indikator penyakit sudah bergerak naik dan mensosialisasikan kebersihan diri dan kebersihan lingkungan agar kuman atau bakteri ecoli tidak berkembang biak di satu kumpulan titik.
“Biasanya di puskesmas kita ada laporan mingguan terhadap kasus diare apabila indikatornya meningkat harus di waspadai,” paparnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar cepat memeriksakan kondisinya apabila mengalami gejala penyakit diare di pusat fasilitas kesehatan terdekat. “Jika ada gejala masyarakat di imbau untuk segera memeriksakan diri ke puskesmas. Jangan di anggap enteng dengan penyakit diare,” pungkasnya.(byu)