Satu Keluarga Berbagi Lapak Tinggal dengan Kambing

BERDAMPINGAN: Keluarga Ace Sidik terpaksa hidup bersebelahan dengan 10 ekor kambing karena lahan yang dimiliki terbatas.

RADARCIANJUR.com – Sembilan tahun keluarga Pasutri Ace sidik (38) dan Siti Sumiati (38) dengan enam orang anaknya tinggal berdampingan dengan kandang berisikan 10 ekor domba. Di rumah berukuran 4×6 meter tersebut, kehidupan sehari-harinya harus dijalani dengan kesederhanaan.

Rumah yang terletak di kampung Tangkil RT01/RW01 Desa Babakankaret, Kecamatan Cianjur ini sangat sesak karena berukuran kecil dengan kondisi yang sudah tidak layak untuk ditinggali.

Atap yang sudah banyak lubang serta dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan pintu yang terbuat dari kayu hampir lapuk dan habis dimakan rayap menghiasi kehidupan keluarga ini bertahun-tahun lamanya.

Hingar-bingar kehidupan dan ramainya kehidupan Kota Santri, ternyata masih terdapat masyarakat yang hidup di bawah kata layak. Bahkan, kehidupan yang dijalani harus berdampingan dengan beberapa ekor domba karena sempitnya bangunan rumah tersebut.

Semerbak aroma domba tercium saat memasuki rumah dengan cat berwarna kuning kusam ini.

Wangi aroma hewan berbulu dan suara khasnya sudah menjadi alunan nada yang biasa di dengar oleh keenam anak-anaknya dan mengiringi derap langkah kaki bermain dengan riang gembira.

Bagi sebagian masyarakat hal yang sulit dinikmati. Terlebih dengan kondisi yang bukan pada umumnya.

Keseharian pasangan pasutri ini hanya mengandalkan pekerjaan mencari rumput untuk ternak dan kuli serabutan dengan imbalan 50 ribu saja sudah termasuk besar.

Sistem bagi hasil dari memelihara domba yang dipercayakan kepada pasutri ini hanya didapatkan satu tahun sekali dengan hasil keuntungan bersih Rp2 juta. “Untuk penghasilan yang didapat suami sehari-hari di cukup-cukupkan saja untuk kebutuhan,” katanya.

Sisi lain diungkap Pemerintah Desa Babakan Karet lewat Kepala Desa, Isep Solihin tentang keluarga Ace Sidik yang tak luput dari perhatiannya.

Perhatian diberikan dengan mendaftarkan bantuan bagi keluarga yang tergolong tidak mampu ini. Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BNPT) telah berjalan selama dua tahun dengan rutin diberikan.

Selain itu Bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (Rurilahu) pernah di
tawarkan, namun apa daya program hanya diberikan bantuan berupa bahan bangunan saja. “Sudah sempat kami akan daftarkan penawaran program pembangunan. Hanya saja belum ada biaya untuk bayar tukang. Karena program tersebut hanya berbentuk bahan bangunan yang diberikan,” ungkapnya. (byu)