Satu Keluarga Puluhan Tahun Hidup di Gubuk Reyot di Tengah Sawah

Satu Keluarga Puluhan Tahun Hidup di Gubuk Reyot di Tengah Sawah

RADARCIANJUR.com – Senin (20/09/2021) Kemiskinan di Kabupaten Cianjur seakan tak ada habisnya, itulah sepenggal kalimat yang mengambarkan masih banyaknya masyarakat yang tinggal di garis kemisinan hingga kini.

Kisah potret kemiskinan dialami satu keluarga asal kampung BTN Limbangansari RT 002 RW 012 Desa limbangansari, Kecamatan Cianjur yang puluhan tahun menempati rumah mirip gubuk reyot di ditengah hirup pikuk kehidupan masyarakat Cianjur.

Rumah panggung tergolong kecil dengan ukuran 4x 6 meter yang telah berdiri selama 40 tahun kondisinya sangat memprihatikan, tembok yang terbuat dari anyaman bambu terlihat hampir habis dimakan rayap, cat dinding dan pintu yang nampak kusam serta kayu penyangga yang hampir rubuh ditempati pasangan suami istri Yati (57) dan Ahmad (57) beserta kedua anak laki-lakinya.

Rumah yang termasuk ke dalam wilayah RT salah satu perumahan ini nampak berbeda karena letaknya jauh dari pemukiman karena berada di pertengahan area persawahan masyarakat.

Semilir angin khas sawah berhembus ketika memasuki rumah keluarga Yati yang jauh dari kesan moderen, aroma padi disekililingnya menandakan kesederhanaan pasutri ini yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani.

Dibantu sang suami demi menyambung hidup mengandalkan upah bekerja di sawah milik orang lain dengan sistem bagi hasil yang tak menentu.

“Sehari-hari penghasilan dari situ, panennya 1 tahun 3 kali, sekali panen paling besar dapat 4,5 juta, kadang kurang juga, yah gak menentu,”katanya.

Sambil berderai air mata Yati yang bertubuh kurus terlihat sekujur tubuhnya penuh dengan tanah sawah, berpakaian compang camping di tutupi topi khas petani menjelaskan penghasilan yang ia dapat harus cukup untuk kebutuhan sehari-harinya dalam menyambung hidup.

Ibu anak 4 ini bercerita kedua anaknya telah tinggal terpisah dengannya dan sudah mempunyai keluarga, anak perempuannya mengikuti sang suami dan anak laki-lakinya bekerja sebagai satpam di salah satu sekolah swasta, kini tersisa dua orang anak laki-laki yang sehari-hari membantunya untuk turun ke sawah.

Terkadang ia bingung ketika anak-anaknya hanya sebatas berkunjung, karena sempitnya rumah yang ia tinggali serta ketersediaan kamar yang minim, bahkan kedua anaknya pun harus bergantian tidur di satu kamar dan ruangan tengah.

“Anak saya 1 wanita sudah berkeluarga, yang satu laki-laki sudah berkeluarga, ini tinggal si bungsu sama kakanya baru saja jadi duda,”ungkapnya.

Status tanah yang mereka tempati pun tak jelas karena milik orang lain bekas majikannya terdahulu yang telah meninggal diberikan tanpa adanya surat-surat kuat bukti kepemilikan, meski bangunan yang ditempatinya hasil membangun bersama suami terdahulunya, tetapi sewaktu-waktu dapat di ambil dengan mudahnya oleh keluarga sang mantan majikan.

Tak ada perhatian lebih akan nasib keluarga malang tersebut, Pemerintah Desa setempat hanya memberikan perhatian alakadarnya dengan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT DD) sebesar 300 ribu dan bantuan beras satu karung berisi 10 kg setiap beberapa bulan sekali, meski tergolong pas-pasan tidak serta merta membuat Yati menyerah dengan keadaan, semangat pantang menyerah selalu terlihat dari tatapan matanya meski kesedihan selalu ada.

Suratan takdir yang ia jalani selalu di syukuri tanpa mengeluh dan mengandalkan belas kasihan orang. Cita-cita keluarga ini hanya satu kelak mereka ingin mempunyai rumah yang layak agar dapat berkumpul dengan nyaman bersama anak-anak dan cucu-cucunya. (byu)