Saking dalamnya kekuatan skuad Bhayangkara, Evan, playmaker andalan timnas, bahkan hanya sekali saja jadi starter. Duet pivot tim berjuluk The Guardian itu, Wahyu Subo Seto dan Lee Yoo-joon, memang susah digeser. “Semua pemain mendapat kesempatan yang sama. Saya memilih yang terbaik berdasar strategi yang akan diterapkan dan hasil latihan,” kata Paul Munster, pelatih Bhayangkara.

Radarcianjur.com -Dinas Pendidikan Kota Surabaya menugaskan tim satgas mandiri sekolah untuk mengawasi pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Mereka berama kepala sekolah melakukan pemantauan dan pengamatan kepada siapapun yang masuk dan ada di sekolah.

”Kalau ada tanda-tanda tidak sehat, pihak sekolah wajib melakukan tindakan-tindakan dan meminta yang bersangkutan tidak beraktivitas di sekolah. Jadi, kalau dia guru bisa mengajar online dari rumah, dan kalau siswa kita minta untuk mengikuti daring dari rumahnya,” tutur Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Supomo ketika dihubungi, Jumat (24/9).

Total terdapat 213 sekolah negeri dan swasta di Kota Surabaya sudah menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas sejak beberapa waktu lalu. 213 sekolah itu terdiri atas 112 sekolah dasar (SD) dan 101 sekolah menengah pertama (SMP). Mereka menggelar PTM terbatas setelah lolos asesmen dan sudah menggelar simulasi PT

Supomo menjelaskan, awalnya PTM terbatas dilakukan untuk jenjang SMP mulai 6 September. Seminggu kemudian, PTM jenjang SMP bertambah. Selanjutnya, mulai 20 September, PTM terbatas mulai dilakukan pada jenjang SD.

”Total SD yang sudah melakukan PTM terbatas mulai Senin (20/9) sebanyak 112 sekolah, baik negeri maupun swasta. Sedangkan jenjang SMP 213 sekolah. Jumlah ini terus bertambah dan dinamis seiring selesainya asesmen, karena yang diasesmen sekarang ada sekitar 161 sekolah,” jelas Supomo.

Supomo memastikan, PTM dilakukan dengan menerapakan protokol kesehatan yang ketat dan tidak buru-buru membuka PTM sebelum lolos asesmen. Sebab, dia tidak ingin PTM itu menimbulkan klaster baru di Kota Surabaya.

Supomo memastikan setiap sekolah melakukan evaluasi harian. Hasil evaluasi itu dikirimkan kepada Dispendik Surabaya. Dalam evaluasi itu, harus dilaporkan semua hal tentang kondisi sekolah selama sehari, terutama soal penerapan prokes di sekolah.

”Nah, evaluasi harian itu kita sampaikan kepada para pakar. Biasanya kita rapat bersama pakar seminggu sekali untuk mengevaluasi PTM ini. Pakar ini juga datang ke sekolah-sekolah untuk memantau langsung, sehingga mereka bisa mengikuti perkembangan PTM itu dan bisa lebih tepat dalam mengevaluasi,” terang Supomo.

Dia bersyukur karena berdasar hasil evaluasi pelaksanaan PTM selama dua pekan, tidak ditemukan hambatan apapun. Pihak sekolah mampu menerapkan protokol kesehatan yang ketat kepada anak didiknya. Sedangkan siswa pun disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan itu.

Namun, kadang masih ada siswa yang maskernya melorot, sehingga langsung diingatkan satgas mandiri. Jadi, terkadang siswa itu lupa, sehingga kami ingatkan. Yang lain alhamdulillah sudah sesuai prokes,” ujar Supomo.(jpc)