Berjuang Hidup di Masa Pandemi

Nanang Sasmita pengasong koran di Cianjur.

RADARCIANJUR.com – Kendati perubahan zaman terus berganti ke era canggih digitalisasi. Namun di usianya yang menginjak 70 tahun, Nanang Sasmita terus berjuang menjadi penjual koran keliling.

Itu semua terpaksa Ia lakukan dan rela banting tulang setiap harinya untuk menghidupi keluarga tercintanya. Terlebih di masa pandemi yang hingga saat ini belum usai.

Ya, di usainya yang kini 70 tahun ini, mungkin bagi sebagian orang sudah waktunya menikmati masa tuanya dengan merasakan kenyamanan tanpa beban hidup. Namun apa daya, itu tidak berlaku bagi Abah Enang sapaan akrabnya orang memanggilnya.

Abah Enang yang berdomisili di Kampung Pamoyanan RT02 RW02 Kelurahan Pamoyanan Kecamatan Cianjur tak pernah mengenal kata lelah meski usianya sudah bukan waktunya bekerja keras.

“Ini semua saya rela lakukan demi keluarga tercinta,” ujarnya.

Lelaki tua yang memiliki istri bernama Wiwin ini tidak pernah mengenal kata megeluh, apalagi situasi di tengah Pandemi Covid-19, di mana tuntutan ekonomi pun semakin tinggi.

Baginya berjualan koran secara keliling adalah satu satunya mata pencaharian yang Ia geluti sudah hampir 47 tahun.

“Alhamdulillah saya sudah 47 tahun berjualan koran keliling di kota Cianjur, dan Alhamdulillah dengan berjualan koran saya bisa menafkahi keluarga tercinta,” ungkapnya sambil tersenyum.

Setiap harinya, di pagi hari buta, di mana sebagian orang masih terlelap tidur ia bergegas bangun dan mandi, kendati air pagi terasa dingin namun sudah biasa menyirami tubuhnya yang sudah renta. Tak lupa sehabis mandi Ia langsung berwudu, agar ketika Adzan berkumandang Ia langsung melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yakni melaksanakan salat.

Sang istri Wiwin(64) selalu mengayomi dengan penuh kasih sayang, ketika sang suami sudah selasai melaksanakan salat. Ia bergegas menyiapkan sarapan seadanya,secangkir teh hangat dan sepiring nasi dengan lauk seadanya ia sajikan demi sang suami tercinta.

“Pak sarapan dulu biar tidak masuk angin, ajaknya dengan nada lembut dan santun,” ucap Wiwin. Ia juga bergegas sarapan bersama sang istri sebelum memulai aktifitasnya.

Topi biru yang sedikit lapuk termakan usia, menjadi satu satunya alat untuk menahan teriknya matahari dan menahan derasnya hujan jika musim hujan tiba. Rompi kuning menjadi tanda bahwa Enang adalah seorang penjajak koran. Semuanya alat tersebut disiapkan sang istri tercinta Wiwin, dan tidak lupa satu komponen yang wajib selalu Suaminya bawa dan kenakan di masa pandemi seperti sekarang ini, yakni masker.

Tak lama setelah semua persiapan selesai bergegas melangkahkan kaki dengan penuh harapan. Yakni berharap koran yang Ia jajakan laku, sehingga bisa mencukupi kebutuhannya di hari itu.

Sekitar pukul 05.30 WIB Ia keluar rumah untuk mengambil koran di agen terdekat dengan berjalan kaki kurang lebih setengah kilo meter jarak dari rumahnya.

“Ya kurang lebih setengah kilo kang dari rumah saya ke tempat agen koran setiap harinya berjalan kaki,” ungkapnya sambil menghela napas panjang.

Ia sengaja selalu di pagi hari berangkat dari rumah agar tidak kesiangan, karena takut tidak kebagian koran. Sebab Ia menjajakan koran dengan berjalan kaki.

“Takutnya tidak kebagian koran dan takut kesiangan, kan saya jalan kaki jajakin korannya, sehingga saya harus bertarung dengan waktu setiap harinya,” ungkapnya.

Setelah sampai di tempat agen koran, lalu Ia bergegas memisahkan koran yang hendak akan dibawa untuk dijajakan, kurang lebih 50 koran Ia jajakan setiap harinya, yakni koran dari berbagai media, baik dari media lokal hingga media nasional.

Ketika koran yang telah pisahkan sudah siap, Enang membungkusnya dengan kertas tebal warna coklat seperti kertas semen. Itu dilakukan agar tidak berantakan dan gampang ketika ada yang membeli koran.

Tanpa wadah khusus, koran yang telah bungkus, lalu dibekap di dada bagian kiri dan ditopang tangan kiri agar gampang membawanya. Tak jarang tangan kirinya selalu terasa pegal karena terlalu lama memegangi koran.

Di bawah terik matahari, kendati kaki yang sudah sedikit kaku karena faktor usia, namun tidak lantas menyurutkan semangat Enang untuk menjajakan koran. Cucuran keringat menjadi hawa yang sudah biasa Ia rasakan hingga terasa lengket di badan.

“Saya masih bersyukur masih diberikan kesehatan di usia yang sekarang, dan bersyukur masih bisa berjuang demi keluarga tercinta, terlebih di masa pandemi Covid-19 saat ini, ” ujarnya.

Sosok bapak tiga anak ini mengajarkan kita untuk tidak mengalah oleh usia dan keadaan selama masa pandemi, terus berjuang demi kebahagiaan keluarga tercinta.(dm4)