Pandemi dan Bulan Safar, Angka Pernikahan Turun

Pelaksanaan pernikahan yang dilakukan oleh KUA Kecamatan Cipanas sebelum pandemi Covid-19. (Foto: Dokumentasi)

RADARCIANJUR.com – Imbas Pandemi Covid-19 yang ditambah kepercayaan di bulan Safar, angka pernikahan di wilayah Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Cipanas, Dede Kurnia saat ditemui radarcianjur.com, Selasa (05/10/2021) di Desa Sindanglaya.

“Ini gak tau kenapa, memang mayoritas umat muslim mungkin di hampir se-Indonesia ini meyakini bahwa bulan Safar itu menjadi bulan yang kurang baik untuk menikah. Makanya secara otomatis, khusus bulan ini, angkanya jadi turun drastis,” kata Dede.

Alasan itu, menurutnya, karena mungkin sebagian besar masyarakat di Cipanas, bahkan hampir se-Indonesia, memiliki adat budaya serta kepercayaan dalam memilih hari, bulan, dan tahun untuk melangsungkan pernikahan. Termasuk dalam ajaran agama Islam, pelaksanaan nikah dipercayai ada bulan-bulan baik dan kurang baik.

“Jadi hampir kebanyakan dalam melangsungkan pernikahan itu umat muslim lebih memilih bulan Dzulhijjah, Syawal, Ramadan, atau bulan lainnya selain Safar,” ujarnya.

Bahkan, Dede menyebut, angka di Safar yang bertepatan di Oktober ini, pernikahan di Kecamatan Cipanas hanya mencapai sekitar 20 pasang yang melangsungkan pernikahan. Jauh berbanding terbalik dengan bulan-bulan lainnya. Yakni bisa mencapai sekita 80, 70, hingga lebih, yang melakukan akad nikah.

“Kalau dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya itu sangat drastis. Perbandingannya bisa mencapai 300 persen bahkan lebih,” ucapnya.

Dede mengatakan, belum mengetahui datangnya kepercayaan dan adat budaya khususnya umat muslim untuk tidak melaksanakan pernikahan di bulan Safar. Justru menurutnya, dalam Safar ini, telah dicontohkan oleh Nabi besar Muhammad Saw kepada salah seorang putri Rasul. Tetapi memang itulah kepercayaan yang telah turun temurun di negeri ini.

“Sebetulnya bukan hanya di Cipanas saja, tetapi mungkin hampir kebanyakan umat muslim memiliki adat seperti itu,” katanya.

Meski begitu, pihaknya akan terus mengajak dan mengimbau masyarakat khususnya umat muslim, agar tidak terlalu fokus ke dalam adat istiadat yang akhirnya menjadi menjalur untuk berbelok akidah atau kepercayaan. Walaupun tak dipungkiri kenyataan ini telah turun temurun dari orangtua masing-masing.

“Mudah-mudahan saja tidak terpengaruh adat istiadat yang kurang baik. Artinya tidak sesuai dengan ajaran serta tuntunan Nabi besar Muhammad Saw,” tandasnya.

(dan)