Sopir Angkum Cisel Geruduk DPRD Cianjur

Puluhan supir angkum mendatangi gedung DPRD Kabupaten Cianjur

RADARCIANJUR.com – Konflik antara angkutan umum (angkum) Cianjur Selatan dengan travel gelap belum usai. Kemarin, (8/10) puluhan supir angkum mendatangi gedung DPRD Kabupaten Cianjur untuk mengadukan keluh kesahnya mengenai kejadian yang merugikan penghasilan supir transportasi tradisional.

Dalam audiensi di Gedung DPRD Kabupaten Cianjur, sejumlah supir meminta agar travel gelap tidak beroperasi. Akan tetapi, pertemuan tersebut yang turut dihadiri oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cianjur dan Polres Cianjur dari Satuan Lalulintas.

Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Cianjur, Asni Aprianti mengatakan, para supir meminta agar travel gelap diberhentikan hingga tidak ada aktivitas travel yang dirasa merugikan. “Tuntutannya tidak banyak, hanya travel gelap ditindak agar tidak ada lagi. Kita akan membantu Dishub agar bisa mengawasi dan melakukan penindakan-penindakan terhadap travel gelap,” ujarnya.

Lanjutnya, rencananya, pada Senin (11/10) akan kembali mengadakan audiensi dengan pihak travel gelap serta supir angkum yang didampingi oleh Polres Cianjur dan Dishub Kabupaten Cianjur.

Kepala Dishub Kabupaten Cianjur, Aris Hariyanto menuturkan, pihak supir angkum menuntut agar travel gelap tidak beroperasi di Cianjur. Dishub Cianjur akan berusaha untuk melakukan hal tersebut. “Kita akan berusaha melalui kewenangan yang ada di Dishub dengan membuat situasi kondusif dan masyarakat bisa tetap percaya terhadap angkutan konvensional agar ekonomi tetap berjalan,” tuturnya.

BACA JUGA : Ratusan Kasus Narkotika Mendominasi Persidangan PN Cianjur

Mengenai travel gelap, tetap akan ditindak sesuai peraturan pemerintah. Semua angkutan tak berizin akan mendapatkan tindakan. Selain itu, pihaknya mendatangi setiap pihak travel gelap agar sesuai sebagai mestinya. “Kita rugi, jelas tidak ada pemasukan ke daerah,” terangnya.

Selama penertiban, kurang lebih 10 kendaraan travel gelap sudah menerima akibatnya. Tiga diantaranya menerima sanksi berupa tindak pidana ringan (tipiring) berupa penilangan. “Yang benar-benar melanggar itu tiga, karena kedapatan membawa penumpang,” tutupnya. (kim)