Titiek Puspa Manggung di Papua, Warga Beruduyun-duyun Daftar Indonesia

Titiek Puspa dulu (kanan) dan sekarang. (Titiek Puspa for Jawa Pos)

Penyanyi legendaris Titiek Puspa akan berulang tahun yang ke-84 besok (1/11). Meskipun sudah jarang terlihat di layar kaca, semangat berkarya peraih Lifetime Achievement di Anugerah Musik Indonesia 2016 itu terus menyala. Terbaru, dia merilis single Dua Sejoli awal Oktober. Jawa Pos berbincang gayeng dengan penyanyi kelahiran 1 November 1937 yang kini akrab disapa Eyang itu. Termasuk soal dirumorkan telah meninggal dunia tersebut.

Bagaimana Eyang menanggapi kabar meninggal dunia itu?

Hehehe, saya sih ketawa aja. Digituin juga udah tiga kali. Kalau kata orang Jakarta, ’Ya, ape lu mau kate deh’. Mungkin dia (yang bikin isu, Red) mau bikin surprised karena sebentar lagi saya mau ulang tahun.

Sejauh ini, bagaimana kondisi kesehatan Eyang? Mengingat sekarang Eyang memakai alat pacu jantung.

Alhamdulillah lancar, sampai sekarang sehat. Karena saya juga me-manage hidup saya dengan sangat hati-hati. Selama pandemi aja, saya cuma keluar empat kali. Dua kali untuk vaksinasi, ke dokter gigi, dan bikin klip video lagu Dua Sejoli. Itu pun terpaksa dilakukan karena memang udah diundur terus. Aku sampai gemeteran berkali-kali saking takutnya ketemu orang.

Lantas, apa saja kegiatan Eyang di rumah?

Ikut Zoom aja. Aku diajak jadi pembicara, terus menggambar. Berpanas (berjemur, Red) juga setengah jam sambil olahraga-olahraga kecil. Dan, meditasi juga karena aku merasa tubuhku beda, ada sedikit pertumbuhan kesehatan, semangat, dan kebahagiaan itu.

Yang paling dikangenin dari aktivitas di luar rumah apa saja Eyang?

Bersentuhan tanpa rasa khawatir. Dulu ketemu teman peluk-pelukan, ngobrol-nya enak. Kadang pengin meluk cucu, tapi sekarang takut.

Nggak tertarik bikin konten YouTube?

Oh iya pasti. Di samping masih bisa berhubungan dengan orang luar, saya juga pengin ceritain histori yang terdapat dalam setiap lagu-lagu saya.

Lagu apa yang punya cerita paling berkesan buat Eyang?

Seperti lagu Pantang Mundur. Saat itu aku lihat tentara mau berangkat (tugas, Red) dan istrinya mengandung. Terus Gang Kelinci, yang tercipta di becak ketika mengantarkan Lilis Suryani pulang habis main dari rumah saya di Raden Saleh tahun 1963–1964. Lagu itu tercipta spontan, dia (Lilis, Red) yang awalnya minta.

Kalau single terbaru Dua Sejoli diciptakan sejak kapan?

Sebetulnya sudah lama, lebih dari lima tahun lalu. Cuma, karena musiknya kurang berkenan buat saya, saya minta diaransemen. Dibuat agak klasik sama Tohpati, dengan ditambahin orkestra. Karena orang yang seumurku kan agak sulit nerima musik sekarang. Seleranya beda.

Puluhan tahun di industri musik tanah air, apa pengalaman manggung paling berkesan?

Waktu saya nyanyi di Irian bareng Bing Slamet tahun 1963–1964. Pas datang, warga sana pada datang bawa tombak, mau bunuh kita. Masih asri banget, pakai koteka dan perempuannya telanjang dada. Kata mereka, Belanda bilang jangan mau kenal sama orang Indonesia karena makan orang. Akhirnya diselamatkanlah kita sama tentara yang jaga.

Berarti, saat itu nyanyi dengan rasa khawatir?

Iya, tapi setelah pertama kita nyanyi, orang-orang di sana pada nangis dan berterima kasih. Dan bilang, jangan balik, tinggal di sini sama kami. Di lokasi-lokasi selanjutnya, orang jadi nggak takut, kami pun manggung lebih enjoyed. Setelah itu, banyak orang yang berduyun-duyun mendaftarkan diri jadi orang Indonesia. Padahal, tadinya mereka nggak mau. Itu yang ngomong tentaranya semua.

Masih ingat momen perjalanan ke sana menghabiskan waktu berapa lama?

Dua–tiga minggu, lewat jalur laut. Nah, itu kapal nggak lewat air, tapi lewat ikan. Saking banyaknya ikan saat itu, setelah kapal lewat, belakangnya darah semua.

Kenangan kecil Eyang yang tak terlupakan?

Banyak. Salah satunya, waktu ngungsi di Gunung Sumbing pas saya kelas II SD. Kan sekolahnya di Temanggung, setiap pagi berangkat bawa obor bareng sama perempuan-perempuan yang mau jual barang ke pasar. Nah, mereka itu bawa keranjang yang ukurannya lebih gede dari badannya. Itu saya lihat, dia pada pipis berdiri, kainnya diangkat, langsung serrrr gitu. Karena udah nggak bisa duduk. Dari situlah lagu Minah Gadis Dusun. Terus aku juga mikir, jadi ternyata orang kota itu makannya dari orang desa.

Apa nih cita-cita atau harapan Eyang yang ingin diwujudkan sekarang ini?

Aku cuma kepengin di Indonesia tuh ada teater anak-anak Indonesia. Karena saya melihat anak-anak sekarang itu perhatiannya ke (budaya, Red) luar semua, entah ke Amerika, Jepang, Korea, dan lainnya. Dan itu memang memberikan tontonan yang cantik-cantik. Jadi, memang harus ada kerja sama antara pemerintah, pihak swasta, dan penggemar seni untuk bikin teater anak.

Ada pesan yang ingin Eyang sampaikan untuk masyarakat?

Saya ingin Indonesia tuh damai. Tidak saling menyakiti, justru bersatu. Mohon maaf selama 84 tahun, pasti saya ada beribu-ribu salah karenanya saya menyampaikan berjuta-juta mohon ampun. Salam hormat, cium, doa, dan cinta bagi Anda semua seluruh rakyat Indonesia.

(jawapos/may)