Miris, Tak Ada Akses Jembatan, Mobil Warga Harus Terjun Sungai Antar Hasil Bumi

Tampak Mobil Truk bermuatan hasil bumi sebrangi sungai. Foto : Istimewa

RADARCIANJUR.com – Tak ada akses jalan atau jembatan penyeberangan, masyarakat Kecamatan Naringgul sebrangi sungai untuk menjual hasil bumi.

Hal tersebut tentu sangat memprihatikan, beberapa mobil bermuatan hasil bumi harus lalu lalang terjun selatan Cianjur terjun menyeberangi sungai.

Jika sedang tak deras aliran sungai tersebut masih bisa dilewati, namun jika arus sungai deras maka hasil bumi tertahan dan tak terjual.

Tak ada jembatan permanen yang bisa dilewati oleh kendaraan roda empat yang menghubungkan dua Desa yakni Sukamulya dan Wanasari yang masuk wilayah Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur.

Diketahui dua Desa ini dipisahkan oleh Sungai Cigadung. Saat ini jembatan yang ada hanya untuk kendaraan roda dua saja.

Kepala Desa Wanasari Upid Saripudin mengatakan jarak antara Desa Sukamulya dan Desa Wanasari sejauh lima kilometer.

“Jalur jalan ini masuk jalan kabupaten dan ini merupakan akses jalan satu satunya bagi warga kami dan Sukamulya,” ujar kepala desa melalui sambungan telepon, Rabu (10/11/2021).

Kepala desa menyebut, warga yang ingin menjual hasil bumi tak punya pilihan selain harus terjun dan mobilnya menyeberangi sungai.

“Jembatan yang diperuntukkan bagi warga dan roda dua ada dibangunnya oleh Dinas Tata Ruang dan Permukiman Kabupaten Cianjur,”paparnya.

Upid berujar, alokasi Dana Desa tak dapat digunakan untuk membangun jembatan agar dapat di lalui roda empat.

“Pihak pemerintah Desa Wanasari bukan tidak mampu untuk membangun jembatan yang bisa dilewati oleh kendaraan roda empat dengan mengunakan anggaran Dana Desa (DD). Namun yang jadi hambatan karena terbentur dengan aturan sebab kalau jembatan tidak bisa mengunakan aggaran Dana Desa (DD),”terangnya.

Ia berharap, Jembatan Sungai Cigadung mencapai 25 meter agar di bangun oleh pemerintah daerah ataupun provinsi.

“Kami atasnama warga Desa Wanasari berharap mudah-mudahan melalui pemerintah daerah, provinsi, atau pusat bisa segera membangun jembatan yang bisa dilalui oleh kendaraan roda empat,”ungkapnya

Upid merasa prihatin melihat warganya menyeberangi sungai hanya untuk menjual hasil bumi.

“Jujur sangat perhatian sekali, melihat kondisi seperti ini,”kata Upid.

Salah satu warga Desa Sukamulya, Tutang (40), mengatakan, setiap menjual hasil bumi ia harus turun bersama mobilnya menyeberangi sungai.

“Yah tidak ada lagi jalan alternatif yang paling dekat satu-satunya lewat Sungai Cigadung, sebab kalau muter ke arah Cidaun lebih jauh belum lagi jalannya rusak parah dan berlumpur, ada jalan alternatif lainya lewat gunung sumbul tetapi sama juga jalannya hancur berlumpur dan bebatuan,” kata Tutang

Tutang menjelaskan, ia harus sedikit mengubur rasa takutnya saat membawa mobil menyeberangi sungai.

“Allhamdulilah walau harus menantang maut dengan melewati derasnya air Sungai Cigadung kami dan warga lainnya belum pernah mengalami kejadian yang membahayakan diri kami,”katanya.

Ia berharap, agar ada pihak yang dapat membangun akses jembatan agar dapat dilalui masyarakat.

“Segera membangun jembatan permanen di Sungai Cigadung yang bisa dilalui kendaraan roda empat,”pungkasnya. (byu)