Cianjur Siaga Satu Bencana

TERTUTUP: Jalan Leuwibunder Kecamatan Sukanagara terdampak longsor, akibatnya kedua arah tidak dapat dilalui kendaraan.

RADARCIANJUR.com – Status siaga satu bencana kini telah dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Cianjur sesuai dengan regulasi kebencanaan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Menyusul banyaknya bencana yang marak terjadi akhir-akhir ini akibat dampak cuaca buruk yang disebabkan oleh badai tropis La Nina.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur mencatat kejadian kebencanaan dari Januari hingga November terhitung 149 telah terjadi. Rinciannya diantaranya banjir sebanyak 26 kejadian, tanah longsor 102, puting beliung 18, abrasi 1 dan pergerakan tanah 1 kejadian.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kabupaten Cianjur, Taufik Zuhrizal mengatakan, Kabupaten Cianjur saat ini telah berstatus siaga satu bencana. “Untuk statusnya siaga satu sesuai dengan ketetapan Pemerintah Provinsi Jabar dan kita kabupaten tentu harus menginduk ke provinsi,” katanya.

Taufik menjelaskan, resiko bencana Cianjur saat ini berada di indeks resiko bencana nasional rangking 4. Dan untuk provinsi rangking 1. Selain itu di 32 kecamatan, 354 desa dan 6 kelurahan semua memiliki potensi kebencanaan, walaupun tiap kecamatan itu berbeda-beda potensi kebencanaannya. “Kita tau dari mulai Utara Cianjur sampai ke Selatan Cianjur itu memiliki resiko bencana. 10 kebencanaan di Kabupaten Cianjur ada,” paparnya.

Menurutnya, wilayah utara Cianjur memiliki potensi bencana gunung berapi, gempa bumi, pergerakan tanah, longsor dan banjir bandang.
“Contohnya, di Karangtengah dan Haurwangi itu sudah padat penduduk. Masyarakatnya tidak begitu ramah dengan lingkungan sehingga beberapa kejadian mengakibatkan banjir,” terangnya.

Sementara itu, wilayah Cianjur Selatan juga memiliki potensi bencana seperti banjir, pergerakan tanah, longsor, angin puting beliung hingga tsunami. “Ke selatan mulai dari Cibeber potensi banjir, pergerakan tanah, longsor, puting beliung dan ditambah potensi tsunami seperti Cidaun, Sindangbarang dan Agrabinta,” ujarnya.

Lanjut Taufik, beberapa bencana dapat dicegah tidak hanya oleh Pemkab Cianjur namun harus serta merta dengan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat. “Antisipasi dengan kesadaran masyarakat selalu waspada dan siaga. Misalnya jika insensitas hujan tinggi melebihi satu jam, masyarakat segera mengevakuasi diri mandiri yang berada di daerah rawan ke tempat aman,” pungkasnya.

Seperti diketahui, akibat banyaknya bencana di wilayah Jawa Barat, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil pun menetapkan siaga satu bencana seiring dengan cuaca ekstrem berupa hujan deras dan angin puting beliung yang terjadi di sejumlah daerah.

Menurutnya, semua kepala yang berada di daerah tingkat kabupaten maupun kota diimbau meningkatkan kewaspadaan sekaligus menyiapkan skema untuk pencegahan korban jika terjadi musibah banjir atau longsor. Dari laporan yang diterima, menurut Ridwan Kamil, musim hujan diperkirakan akan berlangsung sampai awal tahun 2022. “Saya sudah mengimbau kepala daerah, bupati, walikota, kepala BPBD siaga satu di musim penghujan ini. Musim penghujan sampai Februari-Maret, musim penghujan itu biasanya mengakibatkan dua potensi kebencanaan, satu banjir yang sering kita lihat, kedua adalah longsor biasanya di daerah yang miring,” ujarnya, Rabu (10/11).

Di sisi lain, ia meminta masyarakat ikut pula membantu petugas dalam mengantisipasi musibah bencana alam. Di antaranya menjaga serta memastikan saluran air bisa beroperasi maksimal di lingkungan sekitar sekaligus tidak membuang sampah sembarangan.

Khusus di Kota Bandung, kata Emil proyek infrastruktur pengendali banjir terbaru yang saat ini dikebut adalah Kolam Retensi Andir di Kota Badunng yang rencana akan selesai pada dua bulan ke depan. Proyek itu, melengkapi Kolam Retensi Cieunteung dalam mengatasi potensi banjir di Citarum. “Ikhtiar dari kami adalah melakukan pengurangan dengan apapun program dan metode untuk mengatasi kebencanaan,” paparnya. (byu/cr1/b/radarbandung)