Setahun, 224 Kasus DBD Terjadi di Cianjur dan Renggut Dua Nyawa

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com- Kasus Cikungunya di Kabupaten Cianjur sempat terjadi di Kampung Cisarua Desa Nagrak Kecamatan Cianjur dengan jumlah 40 warga terserang penyakit yang disebabkan oleh serangga nyamuk. Ternyata, kondisi tersebut berpengaruh dari peralihan cuaca dari musim panas ke musim hujan maupun sebaliknya.

Akan tetapi, kasus Cikungunya tidak sebanyak kasus demam berdarah (DBD). Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur, dalam kurun waktu Januar-November 2021, terdapat 224 kasus terjadi dan dua orang meninggal dunia.

Sementara di tahun 2020, kasus DBD cukup tinggi. 700 kasus terjadi dan tujuh orang dinyatakan meninggal dunia. Dinkes Kabupaten Cianjur tak henti-hentinya memberikan imbauan kepada masyarakat agar memperhasikan kebersihan lingkungan atau pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Cianjur, dr Yusman Faisal membenarkan kasus yang sudah merenggut dua nyawa di tahun ini. Sehingga penanganan pertama yang dilakukan yakni melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

“Untuk awal, melakukan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN. Selain itu, jika peralihan musim seperti saat ini, biasanya memang selalu ada peningkatan. Tapi bisa diwaspadai atau dicegah,” ujarnya.

Selain PSN, PHBS di lingkungan sekitar pun sangat diperlukan. Masyarakat diimbau agar rajin menjaga kebersihan. Selalu memeriksa tempat penampungan air seperti bak mandi agar tidak jadi tempat bersarangnya nyamuk. Lanjut Yusman, masyarakat pun membiasakan membuang barang-barang yang bisa mengakibatkan genangan air dan ditempati oleh nyamuk untuk bersarang.

“Perlu diperhatikan juga ya, seperti kondisi lingkungan sekitar. Jangan sampai menjadi tempat bersarangnya nyamuk. Rata-rata, kasus DBD dan Cikungunya itu terjadi di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi,” tuturnya.

Kecamatan yang paling banyak dan sering terjadi kasus DBD dan Cikungunya yakni Kecamatan Cianjur, Cilaku dan Karangtengah. Tiga kecamatan tersebut tercatat sering terjadi kasus cukup tinggi.

“Wilayah yang paling banyak kasusnya Cianjur, Cilaku dan Karangtengah. Bisa dikarenakan kepadatan penduduk ataupun juga karena PHBS-nya yang kurang diperhatikan,” jelasnya. (kim)