SPN Cianjur Tanggapi Pernyataan Menaker soal Upah Minimum

ILUSTRASI: Foto uang hasil gaji bekerja.(dok Jawapos)

RADARCIANJUR.com- Menteri Tenaga Kerja (Menaker), Ida Fauziyah memberikan statmen mengenai upah minimum di Indonesia terlalu tinggi dan menyulitkan pengusaha menjangkau hal tersebut. Menurutnya, indeks median untuk upah yang ideal berada di kisaran 0,4 hingga 0,6 persen.

Namun, di Indonesia, sudah lebih dari satu persen, sehingga diperlukan adanya penyesuaian perhitungan upah minimum. Sehingga di tahun 2022, dirinya menekankan agar perhitungan upah minimum menyesuaikan dengan aturan baru.

Pernyataan Menaker tersebut ditanggapi dengan keras oleh Ketua Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kabupaten Cianjur, Hendra Malik. Dirinya mempertanyakan dasar perhitungan sudah terlalu tingginya upah pekerja.

“Jika sudah terlalu tinggi, itu berdasarkan apa? Kalau memang sudah terlalu tinggi, tidak akan ada riak-riak, atau demo dimana-mana,” tegasnya.

Hendra menambahkan, seharusnya Menaker memiliki keberpihakan terhadap pekerja dan bukan berpihak kepada pengusaha. Jika terus seperti ini, pihaknya akan melakukan unjuk rasa hingga tuntutan tersebut dikabulkan.

“Ini kan Menteri Tenaga Kerja, masa berpihaknya ke pengusaha bukan ke pekerja? Kalau Menteri Industri wajar. Bukan berstatmen upah buruh terlalu tinggi,” tuturnya.

Rencananya, pihak serikat buruh akan melakukan aksi demo di Pendopo Kabupaten Cianjur terhitung tanggal 23-25 November 2021 mendatang. Namun, dirinya berbeda dengan serikat buruh lainnya.

“SPN akan menggelar aksi di Istana Presiden Cipanas. Karena bupati hingga gubernur sudah diultimatum oleh Pemerintah Pusat yang mengharuskan kenaikan UMK dan UMP di tahun 2022 menggunakan formula PP 36,” tutupnya. (kim)