Kisah Pilu Kematian Sarah, Wanita Cantik asal Cianjur Disiram Air Keras Oleh Suami Arab

Sarah dan Suami WNA Arab.

KISAH pilu kematian gadis Indo Sunda Arabis, Sarah asal Cianjur sangat mengiris hati sanubari. Perjalanan demi perjalanan kembang desa yang dipersunting pria asal Arab Saudi ini sungguh berakhir penuh dengan kesedihan. Lalu seperti apa kisah Sarah menurut cerita tetangganya, berikut liputanya.

Laporan : BAYU NURMUSLIM, Cianjur

WANITA berusia 21 tahun yang identik dengan hidung mancung, mata bulat seperti bola pingpong dan kulit putih khas Arab dengan tinggi semampai ini lahir dari rahim sang bunda Erawati (47) asli sunda dan Seja M.S (50) warga berasal dari negara minyak Negeri para Sultan Arab Saudi.

Masa kecil Si Cantik Sarah tumbuh dan besar dihabiskan di kampung halaman sang ibu di Kampung Munjul RT 02 RW 07, Desa Sukamaju Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur. Perceraian kedua orangtuanya tak bisa dihindari, karena orang tua beda negara hingga ia harus menjadi anak broken home bersama 3 saudaranya.

Sang bunda tak lama menjanda dan kembali dipersunting pria tegap berpangkat TNI yang tulus menyayangi. Tak setengah hati hingga dianggap sebagai sosok orangtua pengganti.

Beranjak dewasa, si gadis kembang desa nan menawan ini memutuskan untuk mengakhiri masa lajang untuk dipersunting pria lajang beda usia tujuh tahun an dan tampan asal negerinya Raja Salman.

Awal pertemuan, ia dijodohkan oleh sang ayah dengan anak tetangganya di negera tempatnya tinggal, karena ingin sang anak mendapatkan pria yang diidamkannya turut membawa kebahagiaan.

Ya pada tanggal 7 Oktober 2021 janji sehidup semati diikrarkan bersama Abdul Latif (29) yang disaksikan para saksi berikut mas kawin sebesar Rp15 juta saat itu. Selain itu pada janji suci yang diketahui melakukan praktek nikah siri ini ada perjanjian membayar satu milyar jika menjatuhkan talak.

Usai melaksanakan pernikahan sang suami warga negara asing itu diboyongnya untuk meniti kehidupan rumah tangga di rumah indah nan sederhana milik sang bunda di Cianjur. “Saya sih tidak tau, tau-tau aja lapor udah dinikahkan di kampung orangtuanya di Arab ke RW sebelah kampung,” ujar Endang Sulaeman RW setempat saat wartawan koran ini meminta komentar tentang kehidupan Sarah.

Kehidupan rumah tangga pasutri itu nampak bahagia tak pernah terdengar perselisihan, meski akhir-akhir hingga berujung pertengkaran. Si Cantik selalu ramah kepada para tetangga, sedangkan si Arab juga selalu bersosialisasi meski kendala bahasa tak dimengerti warga.

Sehari-harinya si cantik hanya beraktivitas layaknya ibu rumah tangga dan si Arab mencari nafkah hingga ibukota untuk berbisnis dengan para eksekutif muda. “Kadang suaminya itu pulangnya tiga hari sekali, gak nentu sih,” ujarnya.

Hingga pukul 02.00 WIB, Sabtu tanggal 20 November malam kebiadaban sang suami jahanam tak pernah dibayangkan menjadi petaka dua sejoli, yang baru satu bulan setengah membina biduk rumah tangga harus pupus sudah.

Si Cantik ditemukan terkapar dengan mulut tertutup lakban, penuh luka bakar dan pakaian yang robek hingga nyaris telanjang meronta-ronta kesakitan. Air keras sengaja disiramkan si lelaki Jahanam hingga parasnya luntur bersama luka bakar hampir seratus persen di seluruh badan.

Si Lelaki biadab pun berusaha kabur dengan membawa sepeda motornya kencang untuk menghindari amukan massa yang telah emosi mendidih ingin menghabisi.

“Saya dengar jeritan korban, pas saya lihat udah tergeletak dan sempat melihat suaminya bawa motor kencang seperti ketakutan,” kata Apip Sarengat (50) tetangga yang saat kejadian menyaksikan kondisi korban.

Apip kemudian melapor kepada RW yang hanya berjarak dua rumah untuk segera memanggil kepolisian. Sarah sang Kembang Desa yang kini layu sempat akan dirujuk untuk mendapatkan perawatan karena luka bakar yang mengrogotinya.

Tepat pada pukul 21.00 WIB setelah berjuang berjam-jam lamanya untuk kesembuhan ia harus berpulang di rumah sakit meninggalkan keluarga dan orang yang mengenalnya dengan baik untuk selama-lamanya.

“Meninggal dunia saat hendak dirujuk ke rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung setelah sempat menunggu dulu ICU RSUD Cianjur, karena korban harus segera masuk ICU,” kata Direktur Umum RSUD Sayang Cianjur Darmawan.

Tak lama setelah kepergian sarah untuk selama-lamanya lelaki biadab asal Timteng itu diciduk aparat penegak hukum tengah membeli tiket untuk pulang ke negara asal.

Lelaki itu pun kini tengah menunggu hukuman setimpal karena perbuatannya, si kejam harus mempertanggungjawabkan tak hanya di hadapan manusia tetapi sang pencipta.(**)