Puncak Musim Hujan Januari 2022

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memantau adanya anomali suhu muka laut (SST) di wilayah pengamatan Nino 3,4 yang menunjukan nilai untuk memenuhi persyaratan terjadinya La Nina dan sudah berlangsung selama dua dasarian terakhir. Musim

Indeks ENSO pada pertengahan dasarian II November tercatat sebesar -1,07, yang mengartikan La Nina dalam kondisi lemah. ENSO dalam kondisi La Nina Lemah. BMKG dan Sebagian besar pusat layanan iklim internasional lainnya memprediksikan kondisi La Nina Lemah–Netral akan berlangsung hingga Mei 2022.

Dampak La Nina akan mulai dirasakan pada bulan November dan puncaknya akan terjadi pada periode Desember 2021 hingga Maret 2022.

“Dampak yang ditimbulkan oleh La Nina pada wilayah Jawa Barat pada umumnya adalah merubah pola curah hujan secara volume dan temporal. Berdasarkan data empiris yang dimiliki oleh BMKG sejauh ini, La Nina dapat meningkatkan curah hujan di wilayah Jawa Barat pada umumnya antara 20 persen hingga 70 persen,” ujar Kepala BMKG Stasiun Bandung, Teguh Rahayu.

Lanjutnya, kondisi sifat hujan seperti demikian akan memicu peningkatan potensi kejadian bencana hidrometeorologi di wilayah Jawa Barat dan juga Bandung Raya. Potensi kejadian bencana yang mungkin terjadi seperti banjir atau banjir bandang dan tanah longsor. “Namun tidak menutup kemungkinan, terjadi juga angin kencang atau puting beliung dan hujan es,” paparnya.

Seluruh wilayah di Jawa Barat akan terdampak oleh kejadian La Nina dengan tingkat korelasi sebesar 0,7. Dengan demikian seluruh wilayah Jawa Barat dan juga khususnya wilayah Bandung Raya perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang ditimbulkan oleh kejadian La Nina.

“Berdasarkan analisis data yang dimiliki, daerah terdampak kuat di wilayah Jawa Barat adalah wilayah Jawa Barat sebelah Timur dan wilayah Jawa Barat bagian tengah. Selain itu wilayah Jawa Barat pada umumnya perlu berhati-hati pada kejadian La Nina lag kedua dan keempat atau sekitar bulan Januari dan Maret 2022,” ungkapnya.

Selain kejadian La Nina, yang perlu diwaspadai adalah pengaruh global lain dan regional terhadap pola curah hujan di Jawa Barat. Pengaruh global yaitu IOD Negatif (IOD (-)) perlu diwaspadai, pada saat ini indeks IOD sudah mencapai -0,39, apabila pada satu bulan kedepan semakin negatif, maka variabilitas curah hujan akan semakin membesar. Potensi dampak dari pengaruh regional berupa MJO dan Gelombang Ekuatorial akan menambah besar curah hujan di wilayah Jawa Barat dan Bandung Raya.

“Perlu diperhatikan, wilayah Bandung Raya berada di dalam Cekungan Bandung. Cekungan Bandung sendiri dikelilingi oleh banyak gunung-gunung dan bukit dengan elevasi mencapai lebih dari 2.000 meter di atas muka laut. Kondisi demikian menyebabkan wilayah Bandung Raya memiliki potensi bencana hidrometeorologi terkait topografi seperti banjir dan tanah longsor. Selain itu masih ada potensi bencana lainya seperti hujan es dan angin kencang atau puting beliung,” jelasnya.

“Sedangkan puncak musim hujan diprediksi akan terjadi pada bulan Januari 2022. Sifat musim hujan wilayah Bandung Raya diprediksi bersifat Atas Normal (AN). Potensi peningkatan curah hujan yang terjadi diprediksi dapat mencapai antara 20- 70 persen lebih tinggi dari kondisi normalnya,” sambungnya.

Kondisi sifat hujan Atas Normal seperti demikian akan memicu peningkatan potensi kejadian bencana hidrometeorologi.

Kondisi peningkatan potensi bencana tersebut diprediksi akan mulai terjadi sejak pertengahan Dasarian II September hingga Puncak Musim Hujan di Bulan Januari 2022.

Sedangkan prakiraan cuaca berbasis dampak (IBF) untuk dampak banjir atau banjir bandang, terdapat potensi dampak dengan status waspada untuk wilayah Jawa Barat khususnya Cianjur yakni Kecamatan Sindangbarang, Cidaun, Naringgul, Agrabinta, Takokak, Sukanagara, Campaka, Cibeber, Pacet, Cugenang, Gekbrong, Warungkondang, Cianjur, Cilaku, Sukaluyu, Mande, Karangtengah, Bojongpicung, Ciranjang, Haurwangi, Campaka Mulya, Pagelaran,Pasirkuda, Cikadu, Cibinong, Tanggeung, Kadupandak, Cijati, Leles, Cikalongkulon, Sukaresmi dan Cipanas.

Dirinya menambahkan, beberapa hari terakhir di wilayah Bandung Raya, potensi cuaca ekstrim menurun menjadi cerah berawan hingga hujan ringan. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan pola tekanan dan pola sirkulasi angin, yaitu terjadinya pusat tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah Selatan Jawa Barat berupa bibit siklon 90S dan kemudian menjadi siklon tropis Paddy. Aktifnya siklon tropis Paddy berdampak pada meningkatnya kecepatan angin, mulai dari tanggal 20 November 2021.

Masyarakat diimbau untuk mewaspadai terjadinya bencana hidrometeorologi mulai bulan September (musim peralihan) hingga masuk pada puncak hujan pada bulan Januari 2022. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perbukitan, sekitar DAS Citarum dan bahkan perkotaan diharap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kejadian banjir, tanah longsor, hujan es, dan angin kencang atau puting beliung. Selain itu masyarakat dihimbau untuk selalu menjaga kesehatan agar tingkat imunitas tetap terjaga di masa pandemi Covid-19. Masyarakat juga diimbau untuk tidak memaksakan berkendara, apabila sedang terjadi hujan lebat disertai angin kencang untuk meminimalisir resiko kecelakaan lalu lintas. “Selain itu, memasuki musim hujan tahun ini diharapkan dapat melakukan manajemen air dengan baik, seperti dengan menambah luas tanam, melakukan panen air hujan, dan mengisi waduk atau danau dan badan air lainya yang berguna untuk periode musim kemarau tahun depan,” terangnya.

Bagi masyarakat yang tinggal ataupun berkepentingan mengunjungi kawasan pesisir Selatan Jawa Barat untuk selalu waspada dan berhati-hati karena potensi gelombang tinggi masih mungkin terjadi hingga akhir bulan ini. Selain itu, perlu diwaspadai juga kejadian seperti abrasi dan kerusakan infrastruktur pantai lainnya yang disebabkan oleh gelombang tinggi dan angin kencang. “Masyarakat diharap tidak percaya hoax dan selau mencari informasi resmi kebencanaan melalui informasi resmi yang dikeluarkan dari pihak yang berhubungan langsung dengan kejadian bencana seperti BMKG, Basarnas, BNPB, Tagana, TNI-Polri dan aparat Pemerintahan setempat,” imbaunya. (kim)