UIN Sunan Gunung Djati Bandung Gelar Talkshow Kupas Dunia Jurnalisme

Acara talkshow virtual My Ilkom edisi ke-13, UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengangkat tema “Jurnalisme: Saat Realita Lapangan Tak Sesuai Idealisme" Jumat malam (7/1/22).

RADARCIANJUR.com – Korps Protokoler Mahasiswa Jurusan (KPMJ) Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung kembali menggelar talkshow virtual My Ilkom edisi ke-13, dengan mengangkat tema “Jurnalisme: Saat Realita Lapangan Tak Sesuai Idealisme” Jumat malam (7/1/22).

Adapun tema yang diambil kali ini berangkat dari di era modern saat ini digitalisasi sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari. Maraknya aktivitas internet memunculkan banyak manfaat dan juga dampak bagi penggunanya, termasuk munculnya istilah baru dalam dunia jurnalisme, yaitu adanya jurnalisme warga, seorang jurnalis yang tidak terikat oleh media dan buka sebagai jurnalis profesional.

 

Akibat maraknya internet, semua orang mudah menjangkau informasi-informasi di belahan daerah bahkan dunia. Sekarang dunia dimana ketika ada perkara atau kejadian sedikit-sedikit viral, hal tersebut terjadi karena partisipasi dari masyarakat yang ikut menginformasikan suatu peristiwa melalui media sosialnya. Atas aktifnya masyarakat tersebut memudahkan wartawan untuk memberitakan perkara tersebut tanpa harus mengambil gambar atau video, cukup wawancara atau mengutip saja.

Di satu sisi memudahkan, dan di sisi lain ini membuat idealisme jurnalistik menjadi hilang yang seharusnya mencari, mengumpulkan mengolah dan menyebarluaskan, ini malah hanya sekedar menyadur saja. Oleh karena itu bagaimana sih sebenarnya realita jurnalisme di lapangan saat ini, dan menyikapi kasus saat ini, berikut akan dibahas secara tuntas. Acara ini di peruntukan bagi umum, siapapun bisa menyaksikan acara ini.

Acara ini juga merupakan acara rutin yang digelar dua minggu sekali yakni setiap jumat malam pukul 19.45 WIB, di mana acara talk show kali ini dihadiri oleh 30 partisipan yang terdiri dari dosen, dan mahassiswa/i UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan peserta umum. Dengan mendatangkan pembicara yang kompeten dalam bidangnya yaitu Dr. Enjang Muhaemin, M.Ag selaku Dosen Ilkom UIN Bandung, dan Ketua Prodi Ilmu Jurnalistik. Pembicara kedua yaitu Anan Surya selaku Video Jurnalis NET TV

Talk show kali ini dipandu oleh Lina Karlina yang juga merupakan anggota KPMJ dari bidang Pengembangan Aparatur Organisasi (PAO).

Acara dimulai pada pukul 19.45 WIB yang diawali dengan salam sapa dari presenter kepada audiens dan narasumber yang telah hadir dalam Zoom Meetings tersebut.

Dalam sesi talk show tersebut pembicara pertama Enjang menjelaskan, bahwa dengan berkembangnya internet megubah peta dunia hari ini, sehingga proses berita hari ini menuntut kecepatan, menuntut wartawan untuk gerak cepat berlomba-lomba menggali data, menggali informasi untuk secepatnya di informasikan ke publik.

“Hal ini membuat tingkat akurasi menjadi lemah, ditambah internet muncul apalagi sekarang pandemi, di mana wartawan tidak bisa terjun ke lapangan, maka informasi dan reportasi secara online itu menjadi tumbuh dengan subur,” katanya.

Enjang menambahkan, media saat ini di tuntut mengedepankan kecepatan, tapi kecepatan juga harus di iringi dengan ketepatan data dan fakta.

Menurutnya Kalau media saat ini tidak mengedepankan kecepatan media akan mati, terlindas oleh media yang lain. Selain itu masyarakat milenial saat ini lebih suka berita yang singkat-singkat, lebih senang melihat tayangan yang pendek-pendek, jadi media terpengaruh oleh kebutuhan pasar, jadi masyarakat juga mempengaruhi bagaimana media itu memproduksi.

“Tapi media pasti akan tetap bertahan dengan cara mengikuti perkembangan zaman dengan inovasi yang sesuai kebutuhan pasar,” tambah Enjang.

Sementara itu, Pembicara kedua Anan mengatakan, bahwa semua orang bisa membuat konten dan bisa menceritakan apa yang didapatkan, namun validasinya masih kurang dan kurang bisa di pertanggung jawabkan.

Oleh karena itu, masyarakat akan lebih percaya pada media media atau pada video-video atau informasi yang tersebar dari media sosial ketimbang dari media konvensional atau mainstream.

“Apalagi medianya sudah berkubu-kubu dengan politik dan lain-lain. Padahal media mainstream ini mempunyai tingkat tanggung jawab yang besar ketimbang media yang abal-abal atau informasi yang kurang jelas. Nah ini semua bisa terjadi karena maraknya digitalisasi dan internet, semua orang tanpa batas bisa akses informasi,” katanya.

Lanjut Anan, di era digital ini menjadi tantangan bagi media, baik cetak, online mapun radio. Kenapa karena sekarang itu serba mudah untuk diakses, simple dan tidak ribet, tanpa harus menyalakan tv terlebih dahulu, tanpa beli koran dan lain-lain, sekarang cukup dengan membawa hp kita bisa melihat dan mendapatkan informasi mulai dari tulisan, foto bahkan video. Makanya tidak heran jika media-media saat ini juga ikut merambat pada digital seperti youtube.

Selain itu lanjut Anan, dengan digitalisasi saat ini tidak mengenal waktu untuk memberitakan suatu peristiwa, misal ada gempa yang terjadi pada malam hari, itu tidak bisa diberitakan ke esokannya, karena bakal keburu terberitakan oleh media lain, makanya kecepatan di era saat ini hampir menjadi prioritas demi mendapat trending.

“Makanya wartawan sekarang bila ada peristiwa terjadi di waktu istirahat, juga bisa memberitakan,” pungkasnya.(*/sal)