Wabah Ternak Meluas, Cianjur Antisipasi Dini Penyakit Mulut dan Kuku

CEK KESEHATAN: Dinas Peternakan, Kesehatan Hewan dan Perikanan (DPKHP) Kabupaten Cianjur memeriksa hewan di salah satu peternakan di Kabupaten Cianjur.

RADARCIANJUR.com – Dinas Peternakan, Kesehatan Hewan dan Perikanan (DPKHP) Kabupaten Cianjur tengah waswas dengan adanya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak. Pasalnya, saat ini penyakit tersebut sudah merebak di beberapa daerah seperti Jawa Timur dan Aceh.

Bahkan, sejak dikabarkan adanya virus yang menjangkit hewan ternak tersebut, sejak April 2022 kemarin DPKHP Kabupaten Cianjur sudah melakukan sosialisasi dan menyebarkan surat edaran untuk pengawasan terhadap hewan ternak yang ada di para pengusaha hewan ternak Kabupaten Cianjur.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner DPKHP Kabupaten Cianjur, Ade Dadang Kusmayadi mengatakan, pihaknya mengaku khawatir dan resah dengan merebaknya virus tersebut. “Tentu kita khawatir, terlebih menjelang Hari Raya Idul Adha pada bulan Juli 2022 mendatang. Pastinya arus pengiriman hewan tengah ramai-ramainya sebelum hari raya,” ujarnya.

Sehingga, pihaknya meminta agar menghentikan sementara pengiriman hewan ternak dari wilayah yang dalam pengawasan atau masuk dalam zonasi tersebut.

Lanjutnya, untuk mengetahui ciri-ciri hewan ternak yang terjangkit dapat dilihat dari fisiknya. Seperti mulut atau bibir hewan serta gusi pecah-pecah, kuku hewan lepas, suhu tubuh mencapai 40 derajat celcius, hewan enggan untuk makan dan kondisinya lemas.

Selain itu, kondisi hewan ternak yang terjangkit tidak bisa langsung terlihat secara kasat mata sebelum 14 hari. Pasalnya, masa inkubasi virus yang menjangkit hewan akan terjadi setelah 14 hari. “Nanti terlihat gejalanya setelah 14 hari. Misalkan, hewan ternak datang ke peternakan, fisiknya secara kasat mata baik-baik saja, jika hewan terinfeksi, maka dalam 14 hari akan terlihat gejalanya,” tuturnya.

Pihaknya pun meminta kepada pengusaha atau pemilik peternakan untuk menjaga kebersihan, baik di kandang maupun penjaga hewan ternak. Dikhawatirkan, virus ikut terbawa selain dari hewan ternak. “Pengecekan suhu tubuh hewan ternak bisa menggunakan alat pengecek tubuh yang dimasukan ke dubur hewan,” sambungnya.

Dirinya menambahkan, untuk pencegahan, hewan ternak pun diberikan vitamin dan makanan berprotein agar bisa terhindar dan mengantisipasi terpapar virus yang belum ditemukan vaksinnya. “Untuk pencegahan, hewan ternak diberikan vitamin dan makanan berprotein, karena saat ini belum ditemukan penyebab serta vaksinnya,” tambahnya.

Dari informasi yang dirinya terima, saat ini di Garut dan sekitarnya sudah didapati kasus penyebaran virus tersebut. Sehingga DPKHP Kabupaten Cianjur menutup sementara masuknya hewan ternak ke Kota Santri. “Bisa menempel dari pakaian, sehingga penjaga hewan ternak sebelum masuk kandang disemprot disinfektan terlebih dahulu,” jelasnya.

Ketua Himpunan Pengusaha Domba Kambing Indonesia (HPDKI) DPC Kabupaten Cianjur, Paeruzillah menuturkan, dirinya mengaku khawatir dengan adanya virus tersebut. “Sangat khawatir tentunya, terlebih infonya di seputar Garut sudah ditemukan dan Garut jadi zona yang tidak diperkenankan mengirim hewan ternak,” paparnya.

Dirinya pun meminta kepada dinas terkait agar turut mengawasi lalulintas pengiriman hewan ternak ke Kabupaten Cianjur. “Berharap jangan sampai ada di Cianjur, jadi bisa diantisipasi sedini mungkin,” tutupnya. (kim)